-->

Media Sosial dan Suara-Suara Wong Cilik yang Terbentur Pagar Kekuasaan Itu

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen


Lalang Darma
(Praktisi Media)

Suhu politik memanas. Pemilu 2019 masih berada di titik kulminasi. Berbagai temuan yang mengarah pada indikasi kecurangan dilakukan salah satu kubu terungkap melalui televisi dan media mainstream? Tampaknya nggak. Justru melalui media sosial. dan kini masyarakat resah, mencari keadilannya sendiri.

Pergesekan opini dan pemikiran terjadi. Sebagian kubu membuat berbagai tuduhan kepada kubu lainnya melalui berbagai media, sementara pada saat yang sama, ada nuansa media-media mainstream 'seakan' melakukan pemboikotan dan tidak menyorot berbagai dugaan kecurangan di lapangan. Walhasil, media sosial harapan utama untuk menyuarakan rasa keadilan yang tergores.

Inilah kabut hitam iklim politik demokrasi. Fenomena ini mengingatkan penulis pada sikap media yamg melakukan pemutarbalikan fakta dan pendistorsian terkait keputusan rezim yang melakukan kezaliman kepada Hizbut Tahrir.

Kita harus ingat realitas media pragmatis-kapitalis dan tujuannya di dalam dan di luar negeri-negeri Islam, serta realitas Hizbut Tahrir. di mana ide-ide Islam Hizbut Tahrir berbenturan langsung dengan rezim-rezim neoiberal yang ada di negeri-negeri kaum Muslim, serta berbenturan langsung dengan Barat dan ide-ide kapitalis demokratisnya.

Hizbut Tahrir, seperti yang kita tahu, senantiasa membongkar kebobrokan rezim-rezim yang ada di dunia Islam ini tanpa kecuali. Hizbit Tahrir secara tegas ingin menyelamatkan negeri-negeri muslim dari bahaya antek dan boneka Barat dan entitas Yahudi.

Hizbut Tahrir menyerukan seruan Islam ke masyarakat dan berusaha untuk memberi solusi praktis dan paradigmatis. Hizbut Tahrir juga menelanjangi kebusukan pemikiran Barat, termasuk liberalisme, komunisme dan sekulerisme, serta menelanjangi negara-negara yang tegak di atas pemikiran rusak ini, seperti Amerika, Prancis, Inggris, Jerman dan lainnya.

Ada banyak kalangan dari umat Islam tahu bahwa media-media liberal di Barat maupun di negeri-negeri kaum Muslim memiliki tujuan yang sama, yaitu memoles citra pemikiran kapitalis, memperkokoh pilar-pilar negara-negara boneka Barat yang ada di dunia Islam ini, serta menyerukan agar ikut berpartisipasi bersama rezim-rezim boneka yang ada di negeri-negeri kaum Muslim.

Maka di sinilah umat memiliki gambaran tentang kebijakan media-media kapitalis ini dan sikapnya terhadap partai Islam idelogis yang berlawanan arus dengan pemikiran Barat.

Umat hari ini menyongsong dan terus mempercepat langkahnya, mereka ingin mengadili kezaliman yang terstruktur rapi. Ya, hari ini era media sosial, menjadi alternatif serius di saat suara-suara tangis derita rakyat membentur pagar kekuasaan.[]

from Pojok Aktivis
Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close