Oleh: Mira Susanti
(Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)
Mediaoposisi.com- Hawa politik semakin mengelitik tidak ada habisnya. Menjadikan genderuwo sebagai tumbal dari kesontoloyoannya membuat rezim ini buta dan tuli. Hingga melahirkan ide-ide kardusan yang digembok demi menghemat sekepok rupiah. Serta berdampak pada aksi saling protes ,uji nyali dan harus lulus berbagai test. Seperti test baca Qur'an yang mereka usulkan bagi masing-masing paslon dipilpres 2019 nanti .
Hal ini menujukkan kepanikkan yang amat sangat pada rezim saat ini. Tentu saja sebagai seorang muslim wajib menguasai ilmu al-qur'an,baik membacanya maupun mengamalkannya karena diyakini sebagai pedoman hidup untuk dunia dan akhirat. Namun meminta capres dan cawapres lolos test itu, bukanlah hal yang tepat. Sekali lagi adalah bukti kepanikkan yang sudah mencapai klimaksnya.
Kita pahami bahwa Ajang pemilu 5 tahunan hanya dijadikan arena merebut kekuasaan semata. Dalam sistem kapitalis demokrasi saat ini hanya berlaku hukum rimba (siapa kuat ia menang,kalah jadi anak buah). Apapun bisa dilakukan mulai yang halal maupun yang haram asalkan bisa berkuasa.
Beginilah jadinya kalau kita hanya sekedar ganti orang tanpa mau merubah sistem yang rusak ini , semua bisa di akal-akali sampai tidak masuk akal. Politik pencitraan ala drama korea pun menjadi senjata paling diminati. Hanya bermodal rupiah dan kekuasaan menjadi alat untuk mengendalikan media-media sebagai corong politiknya.
Sementara persoalan pemilihan pemimpin bukan hanya sekedar ganti nama ataupun ia yang lulus test ini dan itu secara akademik. Tidak hanya menjadikan gelar dan pengetahuan agama untuk meraup pundi-pundi suara saat pemilu tiba. Namun setelah berkuasa memilih mencampakkan aturan Allah. Berbuat seenak perutnya saja, sering ingkar janji,zhalim,ditaktor,anti islam,menjadi antek asing dan lain sebagainya .
Inilah kenyataan yang terjadi pada negeri ini dari masa ke masa semakin banyak dosa,keberkahan hidup sulit dirasa. Justru negeri ini butuh pada sosok pemimpin yang muslim, bertakwa, jujur, amanah, adil, dan bertanggungjawab penuh atas kepemimpinannya. Menjadikan alqur'an dan sunah sebagai pengatur urusan negara baik dalam maupun luar negeri suatu kewajiban. Tanpa syariat islam negeri ini tidak akan pernah selamat.
Pertanyaannya beranikah kedua capres dan cawapres saat ini berhukum sesuai dengan alqur'an dan sunah?. Jaminannya sudah pasti dari Allah SWT dalam firmanNya :
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50).
Ini baru bisa dikatakan sebagai pepimpin yang kuat dan berdaulat karena ketaatan dan ketundukannya pada syariat Allah menjadikannya lebih mulia dan terhomat. Yang pasti Allah akan memberikan berkah dari langit dan bumi pada setiap jengkal negeri yang berada dalam kepemimpinanya.
Firman Allah SWT :
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur 24: Ayat 55.).[MO/sr]

