Oleh : Rizkya Amaroddini
(Mahasiswi STEI Hamfara)
Mediaoposisi.com- Catatan akhir tahun kali ini begitu menorehkan luka mendalam. Pasalnya berbagai bencana telah beruntun menimpa Negeri ini agar dapat tunduk dan kembali ke hukum Syara. Namun dengan berbagai perayaan yang terjadi, Allah telah menegur kembali dengan datangnya bencana di beberapa daerah. Penderitaan kian merenggut kebahagiaan rakyat.
Perayaan tahun baru telah di pahamkan bahwa itu merupakan ajaran non Islam, bahkan di beberapa daerah mengeluarkan perda tentang perayaan tersebut. Namun ada segelintir orang termasuk calon wakil presiden mengusung bahwa ini tidak toleransi terhadap Agama yang lain. Mereka beranggapan bahwa apa yang mereka usung harus ikut serta dalam perayaan tersebut.
Apa yang menjadi dasar sehingga masyarakat masih ada sebagianyang beranggapan wujud toleransi adalah dengan mengikuti perayaan tersebut ?
Masyarakat masih belum sadarkah jika teguran-teguran yang beruntun tersebut guna mendorong manusia berfikir, Apa penyebab bencana itu di turunkan ?
Keterkaitan manusia tidak mengambil hukum syara memiliki kaitan yang signifikan. Alam pun ikut murka dengan tindakan manusia yang menjauh dari ajarannya sendiri. Ajaran itu bukan mengekang manusia namun mengatur manusia dalam kehidupan agar tidak rusak.
Hal seperti itu bisa terjadi akibat pemikiran dan perasaan kaum muslimin terpisah. Tak ada kesadaran untuk kembali ke Islam. Mereka memang orang-orang Islam, tetapi tidak memiliki ruh Islam. Hal ini tidak akan berubah jika terkungkung pada hal yang menjauhan seorang muslim dengan ajaran agamanya.
Eksisensi Islam kaffah tidak akan terwujud tanpa Daulah Khilafah Isamiyyah. Maka harus di sadarkan bahwa Umat butuh Khilafah. Harus di kenalkan apa itu Khilafah, sehingga ada kesadaran untuk bangkit menegakkan hukum Allah di muka bumi ini.[MO/sr]

