-->

Proyek pemburuan teroris jelang natal dan tahun baru adalah bentuk teror untuk umat islam

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen

Oleh : Nurita Sari

Mediaoposisi.com- Dalam sebuah berita media online yang terbit pada tanggal 22 Desember 2018, disampaikan tentang aktivitas pengamanan aparat kepolisian dalam rangka perayaan Natal dan tahun baru. Kegiatan tersebut bertujuan untuk  mewaspadai aksi-aksi terorisme dan menjaga keamanan terutama menjelang natal dan tahun baru. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Tim Densus 88 Anti Teror telah mengamankan tiga terduga teroris yang berhasil ditangkap di Riau menjelang perayaan Natal dan tahun baru.

"Ada tiga yang berhasil ditangkap kemarin di sini. Dan masih ada yang terus kita amati. Siapa dan dimana penangkapannya, tidak bisa sampaikan disini. Cukup ini saja informasinya. Intinya kita dalam rangka melindungi masyarakat luas," kata kapolda Riau Irjen Widodo Eko Prihastopo (https://m.merdeka.com/peristiwa/940-polisi-disiagakan-cegah-aksi-terorisme-jelang-natal-tahun-baru-di-riau.html).

Bahkan untuk lebih menegaskan betapa bahayanya aksi teror menjelang natal dan tahun baru, pemberitaan di hari berikutnya menyebutkan bahwa ada monitor terhadap sleeping cell
 "Ada monitor kepada sleeping cell yang memiliki potensi dan akan mengganggu kegiatan masyarakat jelang akhir tahun," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Rabu (28/11/2018).

Dedi juga menyebutkan bahwa ada beberapa daerah yang menjadi prioritas pengamanan karena banyak dihuni oleh masyarakat beragama Kristen dan memiliki jumlah gereja yang cukup banyak.
"Ini Polda yang punya jumlah umat Kristiani cukup banyak, jumlah gereja cukup banyak ini adalah prioritas utama," kata Dedi. (https://m.cnnindonesia.com/nasional/20181128131137-20-349899/polisi-monitor-sel-tidur-teroris-jelang-tahun-baru).

Apa sebenarnya tujuan di hembuskannya isu terorisme berkali-kali? Bahkan isu terorisme semakin kuat dengan bantuan media, seolah seluruh media berada diposisi yang sama dengan berita yang sama. Apakah benar jurnalistik di negara ini dalam posisi netral? karena jika media tidak netral maka akan bisa merusak kedamaian dan ketenangan.

Media bisa membuat neraka menjadi surga, dan surga menjadi neraka seperti kata Adolf Hilter. Jika dunia jurnalistik tidak bisa mengabarkan berita yang benar dan berimbang serta tetap di posisi netral, maka jelas sudah kemana alur cerita ini berakhir. Yaitu berjalan sesuai dengan arahan atau skenario sang “sutradara” di balik layar. Dalam dunia kapitalis, apapun bisa terjadi karena adanya modal dan kekuasaan, bahkan idealisme jurnalistik pun bisa “dibeli”.

Dari data sumber di atas, sudah ada 2 pemberitaan yang bernada sama, dan masih banyak lagi pemberitaan dari berbagai media yang terus mengusung isu terorisme, seolah potensi aksi terorisme semakin besar dalam perayaan keaagamaan selain perayaan agama islam.

Pemberitaan dari media asing pun selalu bernada sama “pelaku teror sebagian besar pasti seorang muslim atau organisasi islam” bagaimana bisa? Apakah hanya sebuah kebetulan? jika memang kebetulan, lantas mengapa bisa terjadi berulang-ulang.

Sebaliknya, tidak ada label terorisme bagi cina dalam kasus uighyur, tidak pula bangsa israel yang jelas kebengisannya, begitu pula dengan negara-negara lain yang dengan pongkahnya medzolimi Rohingya, suriah, dan banyak negara lain. Belum lagi bila kita flashback dan membuka catatan sejarah.

Genoside yang dilakukan oleh Adolf Hiltler dalam peristiwa Holocoust, bukankah itu jelas aksi teror yang nyata. Jelas berapa banyak korban dan kerugiannya. Sedangkan aksi teror yang dikaitkan dengan islam, bisakah kita lihat buktinya? Berapa banyak korban dan kerugiannya? Jika dibandingkan kedua kasus tersebut, bukankah itu sangat berlebihan dan tidak masuk akal bila dikaitkan dengan islam. Jangankan bukti, siapa pelakunya saja tidak jelas akan tetapi sudah disampaikan kepada publik bahwa sang pelaku adalah “seorang muslim yang taat ".

Tanpa pembuktian yang jelas, isu dan tuduhan terorisme yang ditujukan kepada islam berulang-ulang bisa dikatakan sebagai upaya memojokkan islam dan umat islam sebagai sumber dan pelaku teror.
Dengan begitu banyaknya pemberitaan media dalam negeri dan media asing yang terus mengusung isu terorisme kemudian di kaitkan dengan islam, maka wajar saja semakin banyak umat muslim yang mulai ragu dengan kebenaran agamanya, ketakutan terhadap agama islam semakin besar, muncul kecurigaan terhadap sesama muslim, bahkan menganggap saudara seiman sebagai musuh.

Dan itulah yang disebut Islamophopia, yaitu suatu sikap kebencian dan ketakutan akan semua hal yang berbau islam. Istilah yang awalnya di anut oleh sebagian besar orang barat yang menganggap bahwa islam itu radikal. Kini mulai merebak di negara kita yang notabene berpenduduk mayoritas muslim. Agenda barat yang bertujuan untuk melucuti aqidah islam dari umat dan dunia dengan cara menyebarkan isu terorisme dan selalu dikaitkan dengan islam agar masyarakat semakin takut dan menjauhi agama.

Selain itu, islamophobia juga membuat aktifitas dakwah/syiar agama dan hukum syariat serta perjuangan islam semain berat. Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surah Al Baqarah 120 ‘Dan orang-orang Yahudi dan Nasrrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka’.

Yang menjadi target “kambing hitam” dalam kasus terorisme adalah orang-orang dan organisasi-organisasi yang gencar memahamkan dan meyadarkan umat tentang betapa pentingnya kebangkitan islam yang harus diperjuangkan bersama. Karena jika umat islam benar-benar sadar dan memiliki kesatuan padu dalam berpikir maka akan mengarah kepada kebangkitan universal dan meyeluruh dan jelas posisi kekuasaan mereka akan terancam.

Harus kita pahami bahwa terorisme adalah musuh bersama yang memang harus diberantas demi kedamaian dan ketenangan dunia. Akan tetapi sungguh fatal mengaitkan aksi-aksi terorisme dengan agama islam. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, agama yang mengajarkan kerukunan dan kedamaian, rahmat bagi seluruh alam.

Umat tidak boleh terprovokasi oleh propaganda soal terorisme berlatar islam. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat islam lebih mendalami ilmu agama agar memahami apa yang terjadi dan tidak mudah terprovokasi.

Karena kita hidup di zaman fitnah, zaman yang disifati oleh Rasulullah SAW bagaikan potongan malam yang begitu gelap gulita, saking pekatnya kita tidak mampu membedakan yang haq dan yang bathil, apa yang terlihat salah belum tentu sesuai dengan kenyataan, kebenaran terlihat salah dan sebaliknya kesalahan di anggap benar.

Sebagai umat terbaik, marilah kita belajar bersama, bersatu dalam ikatan aqidah sehingga kebangkitan islam yang selama ini kita perjuangkan bisa segera terwujud atas izin Allah SWT.[MO/sr]




Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close