-->

Mitigasi dan Tsunami

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen

Oleh: Sunarti

Mediaoposisi.com- Terulang kembali bencana di tanah negeri. Ombak besar menyapu daratan tidak terkendali. Bencana tsunami menimpa tanah pesisir Banten. Tak ayal lagi, kirbanpun bejatuhan. Harta dan nyawapun melayang. Sanak saudara, handai taulan meregang nyawa. Belangsungkawa datang dari berbagai penjuru. Rakyat jelata hingga penguasa.

Ada koreksi besar dari bencana ini. Lepas dari sebuah bencana adalah Qadla' dari Sang Pemilik Jagad Raya, manusia memiliki ranah untuk ikhtiar. Yaitu untuk meminimalisir resiko dan dampak bencana.
Point terpenting ini tidak menjadi perhatian dari pihak pemerintah. Bahkan terkesan abai akan masalah mitigasi, hal ini tampak ketika terjadi bencana yang berdampak massal. Sebagaimana disoroti oleh media asing, NBCnews dalam laporannya, Ahad (23/12) waktu setempat, berjudul "Mengapa tsunami menerjang Indonesia tanpa peringatan".

Direktur Pusat Penelitian Tsunami Universitas California Selatan Costas Synolakis menyebut, tsunami yang terjadi di pesisir wilayah Banten dan Lampung tersebut bukanlah tsunami pada umumnya yang terjadi karena aktivitas tektonik atau gempa bumi. Tsunami kali ini terjadi karena aktivitas vulkanik.

Sementara, sebagian besar tsunami didahului aktivitas seismik yang memungkinkan untuk dilakukan beberapa peringatan. Namun sayangnya, para ahli menyebut, rangkaian faktor menyebabkan dampak bencana terjadi saat tsunami melanda.

Tsunami yang terjadi antara Pulau Jawa dan Sumatra itu diketahui disebabkan Anak Gunung Krakatau yang telah aktif sejak Juni. Setidaknya, ada dua teori yang menyebabkan letusan memicu tsunami, pertama, yakni tanah longsor di bawah air atau semburan lava cair yang menyebabkan perpindahan. Tapi, para ahli mengatakan, kemungkinan bersar gelombang dipicu oleh tanah longsor.
"Ini bukan tsunami biasa. Ini adalah tsunami vulkanik, itu tidak memicu adanya peringatan. Jadi, dari sudut pandang itu, Pusat Peringatan Tsunami pada dasarnya tidak berguna," ujar Costas Synolakis.
Synolakis melanjutkan, karena dekatnya Anak Krakatau dengan pantai, tsunami pada Sabtu (23/12) kemarin kemungkinan melanda 20-30 menit setelah terjadi aktivitas vulkanologi.

Profesor emeritus ilmu bumi di Universitas Northwestern, Emile Okal, menyebut gunung berapi adalah sesuatu yang terus hidup. "Ini adalah sesuatu yang secara geologis tidak dalam kondisi stabil kapan pun," ujar Emile yang telah mempelajari tsunami selama 35 tahun.

Menurutnya, aktivitas gunung akan menjadi tanah longsor dan jika gunung berapi tersebut berada di bawah air maka akan menggusur air dan membuat gelombang. Okal mengatakan, untuk mendeteksi tsunami dengan benar, Indonesia perlu menghabiskan sekitar satu miliar dolar untuk teknologi dan tenaga sepanjang waktu di sepanjang wilayah pesisirnya. Menurutnya, bahkan pada saat itu bukan jaminan bahwa peringatan akan datang pada waktunya.

Namun, kata dia, fakta bahwa tsunami disebabkan oleh gunung berapi dan bukan gempa bumi sebagai satu-satunya alasan, hal itu sangat mematikan. "Sangat buruk bahwa ini terjadi pada malam hari, tampaknya, untuk menambah pada cedera, ini terjadi saat air pasang. Semuanya sama, bahayanya akan meningkat," kata Okal.

Ini bukan pertama kalinya Anak Krakatau menyebabkan kerusakan di Indonesia, menurut Synolakis. Pada 1883 gunung berapi itu menghancurkan wilayah yang sama selama masa aktivitas gunung berapi.

"Itu tidak diharapkan, tetapi tidak terduga untuk terjadi letusan yang dapat menciptakan longsoran dengan cara yang sama yang dipicu 175 tahun yang lalu," katanya.
Synolakis juga menanggapi pernyataan salah satu pendiri Pusat Penelitian Tsunami Indonesia, Gegar Prasetya, yang mengatakan tsunami tidak terlalu besar. Tapi, masalahnya adalah orang selalu cenderung membangun di dekat garis pantai.

Synolakis mengatakan, tidak realistis jika mengharapkan semua orang meninggalkan pantai. Tapi, ia menekankan bahwa mereka yang berada di daerah berisiko tinggi harus menyadari potensi serius akan adanya bencana.

"Jika Anda berada di pantai, Anda seharusnya nikmati pantai. Tetapi, jika Anda melihat sesuatu yang aneh, getaran, atau situasi janggal, lari saja," katanya. (republika.co.id)

Mitigasi (serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana), adalah tanggung jawab penguasa. Sebagai bentuk tanggungjawabnya mengurus dan melindungi umat. Layaknya sebagai perisai, Penguasa menjadi pelindung bagi umat. Semestinya, penanggulangan lebih menjadi perhatian untuk tanggap bencana.

Karena pertanggungjawaban terhadap Sang Pencipta bukan seberapa besar keberhasilan menyelamatkan nyawa atau harta benda, tetapi pertanggungjawaban terhadap seberapa jauh upaya/ikhtiar yang dilakukan. Juga pertanggungjawaban terhadap urusan umat yang dirinya sebagai penguasa, pelindung dan pengayom.[MO/sr]




Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close