Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt.
(Pemerhati Masalah Sosial)
Mediaoposisi.com- Pro kontra tes baca AlQuran untuk bakal calon presiden baru tahun 2019, semakin meruncing. Sebagian kalangan memandang perlu adanya tes membaca Alquran untuk calon pemimpin bangsa. Sebagian yang lain memandang tidak perlu ada tes baca Alquran, yang penting implementasi penerapan isi AlQurannya saat memimpin bangsa.
Dua kubu yang seolah berseteru ini memiliki sejumlah alasan, terkait pandangannya tentang tes baca AlQuran untuk jagoan yang diusungnya. Namun lebih dari itu semua, pro kontra ini menunjukkan adanya dorongan dari umat sebagai konstituen calon pemilih agar mereka dipimpin oleh calon pemimpin yang bisa baca AlQuran dan mau menerapkan isi AlQuran dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.
Satu kemajuan berfikir yang luar biasa baiknya, masyarakat sudah mulai berbalik arah menuju AlQuran dan harapan implemetasinya dalam mengatur interaksi masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Tersebab tingkat kejenuhan dan kekecewaan yang tinggi akan kualitas kepemimpinan dalam menyelesaikan masalah publik saat ini.
Apa Itu AlQuran ?
AlQuran adalah kitab suci umat Islam, yang didalamnya terdapat banyak pengajaran hidup, tuntunan bagi umat manusia dalam meraih kesuksesan dan keberkahan hidup.
Berisi seperangkat aturan dalam mengatur kehidupan manusia. Berupa larangan dan perintah dari Allah SWT.
Artinya, AlQuran adalah sumber segala sumber hukum, yang wajib dijadikan rujukan manusia ketika mencari solusi atas permasalahan hidup. Atau dengan kata lain AlQuran adalah sumber rujukan ketika manusia akan membuat seperangkat aturan perundang-undangan yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam catatan sejarah. Rasulullah Muhammad SAW, tidak bisa membaca dan menulis. Dalam setiap interaksinya yang membutuhkan keterampilan baca dan tulis, Rasulullah Muhammad SAW meminta sahabatnya menuliskan pesan yang ingin disampaikannya kepada yang lain.
Dalam banyak sejarah, para sahabat menuliskan pesan dalam bentuk surat dimana Rasulullah Muhammad SAW mendiktekan dan sahabat menuliskannnya. Surat yang ditujukan pada para pembesar kabilah dan raja-raja dunia dengan seruan agar masuk Islam atau menerima hukum Islam sebagai perundang-undangan dalam mengatur urusan masyarakat. Surat yang ditujukan pada pembesar Romawi dan Persia.
Rasulullah Muhammad SAW tidak memiliki kompetensi membaca dan menulis AlQuran, namun mampu memahami isi AlQuran dan menjadikannya sebagai perundang-undangan saat mengatur masyarakatnya. Sehingga dihasilkannya peradaban masyarakat yang sangat tinggi dan cemerlang. Kemaksiatan dan kedzoliman dalam masyarakat dapat diminimalisir bahkan dapat dihilangkan. Kehidupan manusia menjadi beradab.
Berbeda lagi dengan Khalifah Utsman bin Affan ra, ketika menjadi seorang Khalifah dalam sistem kekhilafahan yang diwariskan dari Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah seorang pemimpin yang pandai menulis dan membaca AlQuran, juga mengimplementasikannya saat memimpin masyarakatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Saat kepemimpinannya pun dihasilkan masyarakat dengan peradaban cemerlang dan masyarakat yang beradab, tersebab hilangnya kemaksiatan dan kedzoliman dimasyarakat. Prestasi fenomenal Khalifah Utsman bin Affan ra yang tercatat dalam sejarah adalah keputusannya untuk membukukan AlQuran, hingga AlQuran dalam bentuk tulisan sampai kepada kita, manusia zaman now, abad milenial. Prestasi yang luar biasa, karena berkat usaha penjagaan AlQuran yang di lakukan sang Khalifah, kita dapat membaca dan mengetahui isi AlQuran hari ini.
Pun begitu dengan khalifah-khalifah setelahnya, mereka mampu membaca, menulis, bahkan menggali hukum untuk mengatur urusan manusia dan mencari solusi atas masalah manusia dari AlQuran. Banyak para Khalifah yang bergelar sebagai mujtahid, yaitu penggali hukum berdasarkan AlQuran untuk mendapatkan solusi atas masalah manusia dari hasil penggaliannya.
Tercatat dalam sejarah, para Khalifah memiliki kompetensi luar biasa, tidak saja dalam membaca dan menulis AlQuran, bahkan seorang Sultan Muhammad AlFatih, penakluk Kota Konstantinopel mampu menguasai tujuh bahkan lebih, bahasa dunia saat itu dan mampu mengatur kehidupan masyarakatnya berdasarkan AlQuran dengan luar biasa adilnya.
Jadi, seharusnya saat ini, tidak perlu ada pro kontra terkait dengan tes kemampuan baca tulis AlQuran bagi seorang calon pemimpin. Terlebih jika calon pemimpin itu adalah seorang muslim. Tersebab, membaca dan menulis AlQuran adalah kemampuan dasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim, terlepas apakah ia seorang pemimpin atau rakyat biasa.
Juga kemampuan baca tulis Alquran ini tidaklah layak dijadikan sebagai alat untuk mendulang suara demi tercapainya ambisi kekuasaan.
Karena memimpin umat bukan ajang coba-coba dan belajar. Akan tetapi memimpin umat adalah ajang pembuktian kemampuan dan tanggung jawab untuk dapat mengurusi dan menyelesaikan seluruh permasalahan umat dengan solusi yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa seluruh warga masyarakat (umat manusia) yang dipimpinnya.[MO/sr]

