Oleh: Irma Setyawati, S.Pd
Karena faktanya rezim saat ini telah menerapkan kebijakan ekonomi yang semakin liberal serta banyak menyerahkan urusan dalam negeri pada asing sehingga ke depan masuklah Indonesia ke depan dalam jeratan penjajahan asing yang lebih dalam. Siapapun pemimpinnya kalau kita tidak bisa lepas dari jeratan asing kondisi kita akan tetap sama.
Saat ini saja kekayaan alam yang sesungguhnya merupakan milik rakyat yang harus dikelola negara dengan baik untuk kesejahteraan rakyat, justru banyak dirampok atas nama investasi.Menko Maritim dan Kelautan dalam Annual Meeting IMF Oktober 2018 di Bali menawarkan proyek blended finance ke para delegasi yang hadir yang berakibat pada masuknya dana investor asing untuk infrastruktur di Indonesia yang tentunya semakin menambah beban hutang negara pada asing.
Padahal hutang yang sudah ada saja sudah membebani ekonomi rakyat. Tercatat pada oktober 2018 utang luar negeri Indonesia menjadi 360,5 milyar US dollar, meningkat 0,7 milyar US dollar dari bulan sebelumnya.
Di saat anak bangsa sulit mencari pekerjaan, pemerintah malah meningkatkan gelombang pekerja asing terutama dari China dengan peningkatan sebesar 69,8% sebagai konsekuensi atas MoU AIIB yang disepakati Indonesia dengan Cina yang akibatnya juga pada banjirnya barang-barang China di Indonesia. Di bidang pariwisata, rezim jokowi bekerjasama dengan jaringan UNESCO dalam Global Geopark Network agar menjaring minat masyarakat dunia untuk mendatangi wilayah eksotis di Indonesia sekaligus melakukan invesatasi di dalamnya. Sehingga kedepan SDA akan berpindah ke para kapitalis local dan asing.
Saat Kampanye Pilpres 2014, Jokowi berjanji lisan, takkan impor pangan. Setelah menjadi Presiden, ternyata Jokowi terus dan kian banyak melakukan impor pangan, seperti beras, bawang putih, gula, daging sapi, dll. Yang berdampang pada anjloknya harga pangan yang diproduksi petani dalam negeri. Rezim saat ini telah amat sangat jelas terlihat banyak ingkar janji, mengkhianati kepercayaan, dan mengedepankan kepentingan pihak asing, bukan kepentingan rakyatnya sendiri.
Mewujudkan kesejahteraan masyarakat memang bukan perkara mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Jika Indonesia berusaha mewujudkan kesejahteraan dalam format yang masih tetap sama yaitu dalam kerangka kapitalis sekuleris, maka hasilnya tetaplah sama, kekayaan hanya berputar pada para Kapitalis dan tidak terdistribusi secara merata kepada rakyat.
Karena pada sistem ekonomi Kapitalisme pengaturan distribusi pendapatan hanya focus untuk kebutuhan dalam negeri secara global, bukan untuk kebutuhan seluruh penduduk individu perindividu. Ekonomi tidak dibangun untuk memuaskan kebutuhan individu dan bukan untuk menyediakan pemuasan bagi tiap-tiap individu dalam masyarakat. Ekonomi hanya difokuskan pada penyediaan alat yang memuaskan kebutuhan masyarakat secara makro dengan cara menaikkan tingkat produksi dan meningkatkan pendapatan nasional (national income).
Sehingga focus pemerintah hanya bagaimana bisa meraup banyak devisa untuk membayar hutang dan membiayai infrastruktur yang diperlukan negara. Sehingga solusinya selalu tetaplah sama yaitu bagaimana penguasa memperbanyak hutang, mendatangkan investor ke dalam negeri dan menarik pajak serta mengurangi subsidi di mana-mana agar kebutuhan negara terpenuhi, tanpa memandang cara-cara tersebut akan mengancam kedaulatan bangsa dan negara.
Sesungguhnya pilihan yang paling rasional bagi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia, adalah membuka akal sehatnya, mau mengambil Syariah Islam sebagai dasar aturan bernegara dan mengurus rakyat. Islam menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer tiap-tiap individu (sandang, pangan, dan papan) dan menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer rakyat secara keseluruhan.
Pemenuhan kebutuhan infrastruktur dibangunkan negara dengan skema mandiri dan tanpa utang. Sehingga rakyat juga bisa menikmati infrastruktur secara gratis. Tidak ada pungutan pajak secara periodik. Jika kita ingin hidup seperti kondisi di atas, kita buang sistem sekuler kapitalis dan berjuang bersama sama membangun kembali Peradaban Islam dalam naungan Khilafah yang pasti membawa kesejahteraan yang hakiki.=[MO/sr]

