-->

Dibalik Bungkamnya Pemerintah Soal Uighur

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen

Oleh: Nirma

Mediaoposisi.com- Beberapa waktu lalu kekerasan terhadap Muslim etnis Uighur di wilayah Xinjiang China kembali terjadi. Yang terbaru adalah adanya sebuah kamp penahanan dimana satu juta muslim Uighur dipaksa menjalani indoktrinasi. Badan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (HAM PBB) mengatakan etnis minoritas itu disekap dalam fasilitas rahasia. Laporan tersebut mengatakan sekitar dua juta etnis Uighur dan minoritas Muslim ditahan disebuah kamp politik guna menjalani proses cuci otak (Republika.co.id, 29/12/2018).

Para pejabat China sebagian besar menolak berkomentar, tetapi media pemerintah mengatakan perubahan ideologis diperlukan untuk memerangi separatisme dan ekstrimisme Islam (news.detik.com, Mei 2018). Indoktrinasi tersebut bertujuan memperbaiki pemikiran politik para tahanan, menghapus keyakinan Islam mereka dan membentuk kembali identitas mereka. Disana mereka disiksa, ditindas, dipaksa untuk meninggalkan Islam, mereka tidak diberikan makan dan minum bahkan perempuannya dilecehkan. 

Kekejaman pemerintah China terhadap Muslim Uighur sudah berlangsug sejak lama. Pada Juli 2014, sejumlah departemen pemerintah Xinjiang melarang pegawai negeri muslim berpuasa Ramadhan. Pengawasan terhadap sekolah-sekolah islam juga sangat ketat. Anak-anak Muslim yang bersekolah diminta menandatangani kontrak yang isinya mereka berjanji tidak berpuasa, shalat dan pergi ke masjid.

Seorang muslimah Uighur mengungkapkan penyiksaan dan pelecehan yang ia alami di salah satu kamp tahanan milik pemerintah China yang disitu berisi ratusan ribu muslim (republika.co.id, 2018, tirto.id, 29 Desember 2018). Tidak hanya itu pemerintah China secara ketat menempatkan pos-pos pemeriksaan diseluruh wilayah hingga perbatasan Xinjiang. Muslim disana juga dilarang mengenakan kerudung, berjenggot dan mereka dipaksa untuk menikahi orang-orang dari etnis China.

Dengan dalih untuk memerangi ekstrimisme, sparatisme dan terorisme Muslim Uighur disiksa dan ditahan oleh pemerintah China. Segala hal yang berbau Islam harus dihilangkan, termasuk pemikiran Islam, penghancuran masjid-masjid, larangan memakai atribut Islam, larangan Ibadah dsb. Bahkan yang terbaru Muslim Uighur ini ditangkap dan dikumpulkan dalam kamp-kamp rahasia dengan keamanan ketat yang mereka disana dipaksa untuk mengambil dan menganut ideology komunis.

Sebagai negeri mayoritas muslim terbesar didunia, apa yang sudah dilakukan pemerintah saat ini? Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia (UI), Agung Nurwijono mengatakan seharusnya jika dilihat dari hubungan baik Indonesia dengan China, pemerintah bisa mendorong disitu untuk membuka akses informasi tentang apa yang terjadi di China dan ini jadi pintu masuk Indonesia bermain dalam level diplomatik (bbc.com, 21 Desember 2018).

Hanya saja, menurutnya belum adana sikap resmi pemerintah atas permaslahan ini dikarenakan Indonesia masih menunggu respon negara-negara Islam lain. Rata-rata negri-negeri Islam didunia saat ini belum banyak bersuara sehingga pemerintah masih diam dan belum melakukan apa-apa.

Diamnya pemerintah saat ini menurut pengamat hubungan internasional UI, adalah langkah hati-hati dari pemerintah untuk menghindari balasan pemerintah China yang justru akan merugikan ekonomi Indonesia yakni embargo. Jika melihat besarnya investasi yang ditanamkan didalam negeri, merujuk pada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari China pada periode Januari- September 2018 mencapai US$1,8 miliar.

Pengaruh China khususnya masalah ekonomi, investasi dan hutang luar negeri sangat besar terhadap negera-negara didunia saat ini, tidak hanya negeri-negeri muslim tapi Afrika sendiri bergantung pada China, sehingga respon apapun yang diberikan itu termasuk pernyataan politik yang akan memberikan feed back terhadap negara tersebut.

Inilah kondisi kaum muslim didunia saat ini, nasib serupa juga dialami oleh Muslim Moro Filipina, Rohingya Myanmar, Pathani Thailand, Muslim Palestina, Muslim Suriah, Yaman dan masih banyak negeri muslim lainnya. Mereka mengalami penindasan, genosida, pelecehan, diskriminasi, kelaparan dsb.

Mereka mengalami semua ini karena mereka adalah muslim. Namun, dunia seolah diam terhadap hal ini. Pemerintah tidak ada nyali untuk sekedar mengecam apa yang dilakukan oleh pemerintah China terhadap saudara-saudara muslim kita di Xinjiang karena takut akan memengaruhi perekonomian negeri ini sebab besarnya pengaruh China di Indonesia. Lantas kepada siapa Uighur dan kaum muslim harus berlindung?

Umat butuh Khilafah, sebagai satu-satunya solusi bagi segala permasalahan yang ada. Dengan mengembalikan perisai umat ini, niscaya akan ada pelindung bagi umat yang akan berdiri tegak didepan umat dan berperang bersama umat dan akan melakukan pengurusan urusan umat berdasarkan Islam, sehingga kemuliaan Islam akan mampu menggentarkan hati para musuh Islam.[MO/sr]



Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close