Endah Sulistiowati
(Dir. Muslimah Voice)
Pemuda dalam setiap episode sejarah selalu menjadi yang terdepan. Dalam sejarah Islam kita mengenal Mushab bin Umair usianya 24 tahun, delegasi pertama yang dikirimkan Rasulullah untuk berdakwah di Madinah, sehingga sebelum moment hijrah tidak ada satu rumah yang tidak tersentuh cahaya Islam di Madinah. Kemudian Muhammad Al Fatih umur 21 tahun, menakhlukkan benteng Konstantinopel yang berabad-abad tidak tersentuh lawan. Diera perjuangan kemerdekaan Indonesia, perlawanan-perlawanan tidak lepas dari peran para pemuda. Demikian juga apa yang terjadi dalam sejarah dunia, maka semua tidak lepas dari peran pemuda.
Ditengah kondisi umat yang sedemikian rupa, hanya ada dua pilihan untuk para pemuda yaitu pertama diam dengan kondisi yang ada, kedua bergerak bersama-sama umat memperjuangkan kebenaran. Sehingga pemudalah yang harusnya menjadi tumpuan harapan dan yang mengadvokasi masyarakat ketika terjadi benturan dengan penguasa.
Namun, saat ini ada banyak hal yang dilakukan pemuda yang memaksa kita mengelus dada. Terhenyak sesaat dengan perilaku mereka, dan mencoba memahami mengapa sampai terjadi. Mahasiswa yang mewakili banyak kaum muda justru sebagian dari mereka tersibukan dengan kuliahannya, bahkan pergaulannya yang justru banyak yang keluar dari pakem agama.
Melihat kondisi inilah yang mengetuk hati para Emak militan yang 10 - 20 tahun lalu mereka menjadi bagian dari pemuda yang selalu di barisan terdepan perjuangan. Saat ini mereka terus bergerak. Lihat saja di akun-akun medsos mereka tidak ada ratapan ataupun status-status lebay, mereka justru gencarkan perlawanan terhadap kedzoliman penguasa dari sana. Seperti tidak ingin waktunya sia-sia, mereka selalu all out dan stand out untuk perjuangan.
Emak-emak inilah yang layak disebut agent of change. Ditengah kesibukannya mengurus anak-anak dari yang masih balita sampai remaja, mendidik anak-anak untuk menjadi pejuang tangguh, serta mempersiapkan anak-anak menjadi pribadi kokoh dengan aqidah yang kuat sehingga siap jika 10 atau 20 tahun lagi mereka harus menjadi pemimpin. Para Emak ini tidak pernah memandang sebelah mata perjuangan. Mereka tetap dibarisan tersebut, tidak pernah mundur apalagi pensiun dini.
Selama kemungkaran, kedzoliman, dan ketidakadilan masih merajalela. Maka perjuangan itu belum selesai. Selama Islam dan umatnya terus dipinggirkan, dihina, dan dilecehkan jangan pernah berharap para Emak-emak ini berhenti bergerak. Karena mereka adalah Emak-emak agent of change. Teruskanlah perjuangan kalian, dipundak kalianlah generasi bangsa ini dititipkan.!
from Pojok Aktivis

