-->

Tsunami Selat Sunda Menunggu Tanggung Jawab Pemerintah

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen
Ilustrasi: www.gatra.com
Oleh: Ummu Tamam
(Ibu Rumah Tangga)

Mediaoposisi.com-Kabar duka kembali merundung masyarakat Indonesia. Mengakhiri tahun 2018, terjangan tsunami dengan ketinggian cukup besar tiba-tiba menghantam kawasan pantai Anyer, pantai Carita, pantai Tanjung Lesung, hingga kawasan pesisir di Lampung Selatan. Penyebab terjadinya tsunami masih didalami oleh beberapa lembaga terkait lantaran tsunami kali ini terbilang langka karena tidak diawali oleh gempa seperti tsunami-tsunami sebelumnya bahkan tanpa disertai peringatan.

Menurut ahli Ekologi dan Evaluasi Krakatau dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Tukirin menjelaskan kemungkinan penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda karena longsoran bawah laut. Menurutnya, longsoran tebing bawah laut biasanya tidak menimbulkan gelombang besar, namun kondisi pasang air laut menyebabkan terjadinya gelombang tinggi.

Masih menurut Tukirin, tsunami yang terjadi hanya karena longsoran tebing bawah laut biasanya tidak akan menimbulkan gelombang besar. Kendati demikian, tingginya gelombang tsunami juga dipengaruhi seberapa besar material yang runtuh. Tsunami ini pun diduga disebabkan gravitasi bulan saat terjadi purnama. "Mungkin di samping getaran itu juga ada pasang laut perbano pada bulan purnama. Sehingga air laut naik ditambah longsoran itu, terjadilah gelombang yang cukup besar." (republika.co.id, 24/12/2018).

Tsunami yang menerjang kawasan pesisir Selat Sunda, Sabtu (22/12), mendapat sorotan sejumlah pihak termasuk media asing. NBCnews dalam laporannya, Ahad (23/12) waktu setempat, berjudul "Mengapa tsunami menerjang Indonesia tanpa peringatan", hal itu terjadi karena tidak adanya peringatan kebencanaan dari tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanologi erupsi anak krakatau.

Profesor emeritus ilmu bumi di Universitas Northwestern, Emile Okal, mengatakan untuk mendeteksi tsunami dengan benar, Indonesia perlu menghabiskan sekitar 1 Milyar dolar untuk teknologi dan tenaga sepanjang waktu di sepanjang wilayah pesisirnya. Menurutnya, bahkan pada saat itu bukan jaminan bahwa peringatan akan datang pada waktunya.

Yang menjadi pertanyaan, siapkah pemerintah mengeluarkan dana yang besar untuk antisipasi bencana, sebagai bukti pemerintah serius melindungi masyarakat dari segala bentuk bencana yang kapan saja akan datang, terlebih Indonesia berada di kawasan yang rawan bencana dan sepertiga kawasannya merupakan perairan?

Demi menjamu tamu IMF saja pemerintah berani menggelontorkan dana besar. Apalagi untuk pencegahan dan penanggulangan bencana, pemerintah harus berani mengeluarkan dana dalam jumlah besar. Kita tunggu kerja pemerintah yaa..

Dalam Islam, mitigasi bencana adalah bagian dari tanggung jawab penguasa dalam mengurus dan melindungi umat yang diwajibkan. Juga sebagai bagian ikhtiar untuk meminimalisir resiko dan dampak bencana. Namun aspek ini sering diabaikan dan dianggap remeh oleh pemerintah, sehingga setiap bencana yg terjadi selalu berdampak massal.

Saatnya manusia menjaga dan bersahabat dengan alam disertai menggunakan aturan yang berasal dari Sang Pemilik Alam, membuat alam ini mendapat ridho disinggahi oleh manusia-manusia yang sadar akan kebutuhannya kepada sang Kholiq.



Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close