Oleh: Ida Purwati
Dalam pidatonya tersebut Habib Rizieq menyampaikan berbagai hal dari kondisi negara dalam lima tahun terakhir hingga ajakan untuk memilih capes-cawapres hasil ijtimak ulama. Rekaman Habib Rizieq tersebut diputar dalam acara reuni Akbar Mujahid 212 di Monas, Jakarta Pusat. Reuni 212 memang telah berlalu, namun spirit perjuangannya masih membuncah dan belum lekang dari ingatan.
Mengingat antusias umat saat itu, yang rela mengorbankan harta, waktu, dan tenaga demi bisa berkumpul bersama para mujahid lainnya. Momen itu tidak sekedar acara pertemuan dan perkumpulan biasa, namun dalam reuni tersebut seolah menjadi introspeksi bagi kita untuk turut serta memperjuangkan suatu perubahan yang hakiki.
Melihat kondisi umat saat ini dengan berbagai problematika yang menimpanya, dimulai dari penodaan agama, ekonomi, ketidakadilan, kezaliman dimana-mana, dan kemaksiatan yang semakin merajalela. Hal ini menjadikan umat melek, dan mengharapkan ada seorang pemimpin yang bisa memberikan solusi nyata untuk perubahan hakiki.
Dan jika kita berbicara suatu perubahan hakiki, maka perlu juga untuk mencari dan menganalisa akar masalahnya. Dan jika ditarik kemungkinan akar masalahnya, maka kita akan dapatkan akar masalah tersebut berasal dari pemimpinnya atau berasal dari sistem yang diterapkannya. sehingga untuk menuju pada sebuah perubahan, kita tidak bisa memalui jalan selain jalan Politik. Karena kekuatan politik inilah yang nantinya menjadi wasilah bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut diterapkan.
Berbicara politik, maka kita harus sepakat dengan definisi Riayah suunil ummah (mengurusi urusan umat). Jadi jelas, ketika kita menentukan kebijakan, maka harus dipastikan bahwa kebijakan tersebut memberikan kemaslahatan bagi umat. Pemegang kekuasaan di dalam politikpun, seyogyanya digunakan untuk melaksanakan Syariat Allah.
Sandaran politiknya pun jelas, yaitu Halal-Haram, bukan bersandar pada kepentingan individu-individu tertentu, atau sang pemilik modal. Sebagaimana kita flashback ketika masa dimana Rasulullah dengan cahaya Islam telah berhasil membawa umat dari jaman kejahiliyahan yang penuh kedzaliman menuju pada perubahan nyata yang penuh keadilan kesejahteraan.
Dan hal tersebut berangsur dalam waktu yang lama yakni selama 14 abad dengan 2/3 dunia. Sehingga diharapkan dengan momen reuni Akbar 212 kemarin, kesadaran umum dalam tubuh umat telah terbentuk. Dan jangan sampai hal ini menjadi padam kembali. Namun, harus tetap kita kobarkan, dengan dakwah dan pembinaan agar bisa semakin dekat dengan arah perubahan yang hakiki.[MO/sr]

