Oleh: Masyithoh Zahrodien S.S
(Aktivis Muslimah Malang)
Mediaoposisi.com- Usulan tes baca tulis quran bagi calon presiden dan wakilnya menuai banyak respon dari berbagai kalangan. Kemudian bermunculan tuduhan yang mengarah pada politik identitas yang kini sedang panas di tengah kaum muslim.
Sebenarnya wajar saja ketika masyarakat yang mayoritas muslim menginginkan pemimpin yang bertaqwa dan mengarahkan mereka pada ketaatan kepada Allah secara keseluruhan dalam bingkai Negara.
Namun kelihatan usil sekali mereka menjadikan tes baca tulis alquran sebagai ajang mencari simpati masyarakat yang notabene islam ini. Politik kekinian yang oportunis lah yang menjadikan pencitraan tingkat tinggi benar-benar diupayakan untuk mendulang suara kedepan karena terbatasnya waktu untuk menggaet massa baik dari kubu petahana atau oposisi.
Ya sedikitnya umat akan tahu kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin mereka kedepan. Kalau saja baca tulis alqurannya kagok bagaimana seorang akan memimpin ratusan juta jiwa muslim di negeri ini dengan islam? Tapi sekali lagi, ajang seperti ini bukan sebagai ukuran apakah mereka akan memimpin dengan islam atau tidak.
Toh yang kita terapkan dalam kehidupan kita adalah sekulerisme yang dilegitimasi oleh system pemerintahan demokrasi yang jelas anti islam. Demokrasi hanya mengakomodir kepentingan mereka, jika hal yang berbau islam dapat mendukung mereka maka diambil sebagai sebuah jalan, bukan karena sadar atas hubungan kita dengan pencipta dan kita harus taat dan menjalankan syariatNya. Tapi sekali kepentingan mereka.
Pemimpin adalah orang yang akan mengawal kinerja bangsa dan Negara ini apakah menjadi bangsa dan Negara yang di ridhoi Allah ataukah sebaliknya. Maka tentu saja kita butuh pemimpin muslim yang akan menjalankan ketaatan kepada Allah SWt. Bukan ketaatan secara pribadi saja, namun ketaatan masyarakat dan juga Negara.
Maka jelas sekali kita tidak butuh orang yang hanya pandai mengaji alquran saja, namun butuh pemimpin yang menjalankan apa yang diperintahkan dalam alquran. Al Quran memerintahkan manusia untuk menyembah Allah, untuk menjalankan aspek ibadah yang hubungannya dengan Allah seperti solat , zakat, puasa.
Hubungan dengan dirinya semisal akhlak, pakaian, dan makanan minuman. Dan tidak berhenti sampai disitu, Allah juga memerintahkan berhukum dengan hukum Allah saja, dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, social, budaya, peradilan dan sebagainya.
Kita butuh pemimpin yang Qur’ani. Pemimpin yang menjalankan al quran dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan. Maka sudah sepantasnya kita butuh system yang islami menjadi wadah bagi penerapan hukum islam dalam bingkai Negara. Islam tidak mungkin terwadahi dengan system lain semisal demokrasi yang jelas anti islam. Maka pemimpin dan system kepemimpinan haruslah islam secara mutlak. Allahu a’lam.[MO/sr]

