Oleh : Novida Balqis Fitria Alfiani
Mediaoposisi.com- Tak terasa, kita sudah sampai di penghujung tahun 2018. Sudah saatnya kita berfikir dan merenung apa saja yang telah terjadi pada tahun ini. Dan segera berubah untuk menyongsong tahun depan yang lebih baik. Apabila kita mengamati sebenarnya banyak sekali kasus yang belum terselesaikan selama bertahun-tahun yang terjadi di negeri ini.
Dari kasus pejabat yang korupsi, maraknya zina, perselingkuhan, perceraian, dan banyak kasus lain yang terjadi berulang-ulang dan berlarut-larut semakin banyak tanpa penyelesaian yang tuntas. Bahkan banyak pejabat korupsi yang dipotong masa tahanannya, dan ada yang bebas dari masa tahanan. Justru kalangan bawah yang hanya mencuri kayu atau buah di pekarangan orang untuk sekadar mencukupi kebutuhan hidup malah masuk penjara sekian tahun.
Terlihat sudah, hukum di negeri ini tumpul keatas, tajam kebawah. Hukum tidak berlaku bagi kalangan atas seperti pejabat dan penguasa. Akan tetapi sangat tegas pada rakyat biasa. Padahal, dalam Islam seluruh manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Di sisi lain, masih teringat jelas dalam ingatan kita bersama negeri ini diguncang berbagai bencana dahsyat menyisakan tanya. Apa yang salah dari kita sehingga Allah turunkan peringatanNya melalui tentara-tentara alamnya berupa gunung api yang meletus, tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung beserta hujan es, yang kesemuanya telah merenggut puluhan ribu nyawa, memporak-porandakan ribuan rumah dan fasilitas umum serta puluhan ribu orang mengungsi. Mari kita merenung apakah wajar ketika bencana alam di negeri ini terjadi secara terus menerus dan berturut-turut?
Bukankah seharusnya kita berpikir, mengapa jarak terjadinya bencana hanya berjarak dalam waktu yang tidak lama dan sering terjadi? Bahkan saat ini gunung anak krakatau dalam level siaga. Ribuan orang mengungsi.
Bagaimana pandangan kita seharusnya terhadap bencana yang terjadi? Pertama, musibah adalah ujian bagi kita. Seperti firman Allah SWT :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (TQS al-Baqarah [2]: 155).
Sebagaimana firman Allah SWT diatas, sikap kita ketika ujian datang kepada kita adalah dengan bersabar. Dengan bersabar, Allah akan meringankan beban kita ketika tertimpa musibah bencana. Bahkan, Allah SWT akan menghapus dosa-dosa kita ketika ia mampu menyikapi musibah dengan sabar dan ridho. Sebagaimana firman Allah SWT :
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَ
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Kedua, musibah dan bencana datang karena kemaksiatan yang merajalela, pemimpin/penguasa yang zalim, dan pelanggaran terhadap syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Hal-hal tersebut juga dapat mengundang musibah dan bencana di negeri ini. Sebagaimana firman Allah SWT :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya).” (TQS ar-Rum [30]: 41).
Kondisi keterpurukan negeri ini dari segala aspek, dan musibah serta bencana di negeri ini yang disebutkan diatas, dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Segeralah berubah untuk menjadi lebih baik di tahun depan. Tinggalkan maksiat, dan tidak perlu ikut-ikutan merayakan tahun baru. Selain karena bukan hari raya umat Muslim, perayaan tahun baru juga mengundang kemaksiatan. Dan kemaksiatanlah yang dapat mengundang bencana di negeri ini.
Selain itu, pemimpin yang tidak menerapkan syari’at Islam juga mengundang bencana dan musibah di negeri ini. Mengapa? Karena sebagai Muslim, kita wajib menjalankan seluruh syari’at Allah SWT, tanpa kecuali, dan tanpa pilih-pilih. Dan juga keterpurukan di negeri ini, serta kasus-kasus yang terus berulang karena tidak diterapkannya Islam di negeri ini.
Maka, saatnya terapkan syari’at Islam secara keseluruhan. Hilangkan segala bentuk sebab kemurkaan Allah dengan menerapkan syari’at Islam. In syaa Allah negeri ini akan aman dan sejahtera, seperti penerapan Sistem Islam dalam naungan khilafah yang pernah diterapkan selama 13 abad lamanya. Tentu kita ingin menghindar dari kesengsaraan dan keterpurukan bukan? Inilah saatnya, inilah waktunya untuk segera menerapkan syari’at Allah dan menegakkan kembali khilafah Islam.[MO/sr]

