Oleh Ilham Imanul Azka
Kesamaan jalan cerita dan nama bukan urusan kami karena tulisan ini tidak untuk menyinggusng siapa-siapa, hanya untuk dua orang saja
Malam demi malam telah berlalu begitu cepat, seakan tak pernah menyuruh bulan untuk beristirahat. hari ini cuaca tak bergitu mendukung, bagi pak tani yang siang malam mencangkul di sawah
Malam itu sunyi, terdengar si joli (sebut saja A dan A) sedang berdiskusi dengan asiknya di whats app mereka, menghibah seseorang toh itu tidak ada urusan dengan mereka.
Kali ini mereka menyinggung soal media, mengatakan media itu hanya web biasa, mengatakan media itu asal asalan, gak selektif, pokoe asal-asalan wani kritik pasti dimuat, tanpa tabayyun terlebih dahulu
lif ternyata media *p*s*s* itu gak selektif dalam penerbitan tulisan, Ujar si tua dari sejoli itu
Ngoahahaha
Ya biasalah orang tidak punya prestasi pasti selalu syirik kepada orang yang berprestasi, apalagi media itu semakin hari semakin banyak followernya. hehe
Dan konyolnya mereka merekalah sendiri membongkar kebiadaban mereka. sepandai pandai tuapi menghibah, pasti ketahuan juga.
Munafik....
Sontak orang memiliki media tersebut (sebut saja Jaka) marah, jijik melihat apa yang dia bangun selama ini dihinakan dibelakang oleh orang yang sok kenal.
seperti seorang anak yang ketahuan orang tuanya sedang onani, itulah ungkapan untuk dua sejoli itu
Kemudian Jaka menuntut maaf atas kebiadaban yang dilakukan oleh sijoli itu, menghibah, mencumi-cumi ingin menghancurkan harga diri sebuah bangunan yang sudah dibangun dengan harta , pikiran, keringat, dan darah dengan jelalatan lidah apinya.
eh dia ngeles,
Merasa dia paling benar, merasa sombong untuk meminta maaf atas kebiadaban yang dia lakukan, malah dia beralibi ini untuk kritikan membangun.
omong kosong!!
kritik tidak ada yang membangun, kritik itu untuk menghancurkan sala halnya Rasulullah saat mengkritik berhala di Makkah
Berhala itu tidak ada gunanya, dia tidak bisa memberi kamu apapun, ucapan seperti itu beliau lakukan demi menghancurkan berhala bukan untuk membangun berhala
Lagi jika seorang ibu mengatakan pada anaknya "kamu itu pemalas, gak bisa mandiri, goblok!!" apakah itu untuk membangun anak yang hebat!!
hello seberapakah tololkah ucapan kritik itu untuk membangun!!
Yang membangun itu apresiasi, contoh seorang anak dipuji orang tuanya maka itu membuat anak itu memiliki hati besar.
Apresiasi aja tidak pernah, maen asal ghibah di tempat yang bukan seharusnya, tanpa tabayyun terlebih dahulu, bukankah itu namanya biadab!!
Biadab!! benar benar biadab
Setelah kalah argumen tentang kritik mereka melabeli media itu media anti kritik. hahaha, betapa mereka masuk ke lingkaran setan yang mereka buat sendiri.
bukankah segala sesuatu selalu ada ilmunya, termasuk kritik. kritik itu harus didasari fakta yang kuat dan tabayyunnita yang kuat pula, dia juga memiliki tempat dan momentum yang tepat.
dua sejoli itu mengkritik tanpa tabayyun, tanpa fakta yang jelas dan parahnya tempat dan momentumnya salah, diingatkan eh ngeles "dasar media anti kritik"
seperti tak punya adab!! biadab benar sijoli itu mengatas namakan kritik demi menutupi kebiadaban yang dilakukan oleh mereka sendiri

