Oleh : Galang L
Hal ini tentu tidak hanya membuat kami geram atas kelakuan duo penghibah ini merasa diri mereka telah jadi super dengan tulisan mereka yang di terima surat kabar harian, tapi faktanya tulisan mereka yang tersiar disurat kabar kini pembacanya sudah menipis, bahkan surat kabar kini dialih fungsi sebagai bungkus makanan pinggir jalan, Apa yang harus mereka banggakan?
Alif sempat menjadi penulis di media kami, namun bukannya berterimakasih telah diberi panggung malah besar kepala dan merasa dirinya banyak ilmu, sehingga dia bisa seenaknya mengatakan "tulisan si ini tak layak, si itu tak layak". Pertanyaan kami, Apakah dia bisa menulis sejak bayi atau mudahnya di lahir lalu mahir menulis?
Jelas tidak, kami sangat tidak terima atas apa yang duo Asma dan Alif ini mereka tergabung dalam satu komunitas penulis "REVOWRITER" dan memiliki almamater yang sama. Kami telah menelusuri jejak mereka dan bagaimana pola prilaku keduanya, sungguh hanya pencela yang tak malu mengumbar gosip.[MO/ge]

