Oleh : Murni Arpani (Aktivis Muslimah)
Mediaoposisi.com-Revolusi Industri generasi ke empat memicu diresmikannya grand design Making Indonesia 4.0. Sebuah roadmap baru oleh rezim penguasa di tahun 2018 ini. Dimana belantika perpolitikan negeri mengarah pada satu tujuan yang terdikte.
Mengawal Indonesia mewujudkan cita-cita kemoderatan. Sepuluh dua puluh tahun terakhir pada faktanya kita berada di masa peralihan dan sedang beradabtasi ke masa yang baru.
Bahkan kita tidak kaget lagi dengan perkembangan kecanggihan teknologi yang luar biasa pesat. "Woles-woles" saja menerima perubahan yang signifikan.
Making Indonesia 4.0 itu pun telah merumuskan program dimulai dari tahap menyusun kurikulum pendidikan K-13. Dimana pemerintah akan membuka 1.500 Sekolah Menengah Kejuruan dan mengepres Perguruan Tinggi Negeri dari 10.000 menjadi 3.000 saja.
Termasuk membangun Universitas Islam Internasional Indonesia yang didesain setara World Class University. Katanya, Making Indonesia 4.0 akan menyerap tenaga kerja. Benarkah? Bukannya mengembangbiakkan TKA?
Nantinya Industry 4.0 ini akan berdampak di setiap lini kehidupan. Ada lima sektor komoditas yang menjadi sasaran empuk.
Seperti kuliner, tekstil, otomotif, teknologi, dan industri kimia. Ditandai dengan superkomputer bersistem cyber-physical, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi.
Dulu, bangsa ini pernah menghadapi betapa gelapnya dunia ketika mayoritas manusia masih buta huruf. Sekarang, bisa dibayangkan betapa padatnya lajur komunikasi ketika satu orang diberi kesempatan menggenggam satu atau lebih fasilitas gadget.
Dulu, jika ingin makan nasi, para petani harus merawat tanaman padi hingga enam bulan lamanya. Sekarang, waktu dipangkas lebih singkat tiga bulan sudah siap panen lalu di-oper ke tengkulak. Kartel-kartel besar bertugas mengendalikan pasar bebas.
Dulu, mulanya Pizza dibuat dengan mengandalkan tenaga manusia dan tungku api besar. Sekarang, vending machine merebak dimana-mana.
Ialah sebuah mesin canggih yang fungsinya sebagai alat penjual produk secara otomatis. Mesin pembuat makanan instan dalam satu menit menjadi tren mutakhirnya teknologi.
Di Jepang dan China serta negara-negara maju di dunia telah mengoperasikan mesin robotik ini. Rumornya, setiap 10 robot dengan kecerdasan buatan mampu mem-PHK 10.000 buruh pekerja. Sebuah terobosan luar biasa sistem kapitalis untuk menekan biaya produksi.
Lantas kemana para bapak mencari nafkah? Pengangguran menjadi daftar panjang yang menyeramkan. Namun feminisme berbicara sebaliknya.
Wanita tetap dibutuhkan secara implisit dalam sistem ekonomi kapitalisme. Perempuan itu multitasking. Tidak terlalu penting menuntut besaran gaji, yang penting mengisi kolom karir.
Di China saja misalnya, bukan satu dua lagi perusahaan yang menyewakan jasa perempuan. Jasa mengupas kulit udang, jasa membuka tutup botol minuman, jasa menemani karoke, bahkan jasa "menyusui" bapak-bapak berkebutuhan khusus. Manusia beralih menjadi alat pemuas, kalah hebat dengan fungsi robot.
Dunia bersolek bak wajah perempuan menor. Seorang pengamat ekonomi berpendapat bahwa di generasi ke empat ini bukan lagi perusahaan besar yang menjadi raja.
Melainkan perusahaan yang bergerak gesit yang akan survive menghadapi perubahan zaman. Contoh sederhana yang telah kita saksikan ialah tumbangnya Nokia dan Blackberry ketika Android gencar dipasarkan perusahaan pesaingnya.
Warkop menjadi "legend" setelah outlet Starbuck menjamur. Es limun tersingkir setelah muncul Ice Kepal Milo si pendatang baru. Begitulah siklus disrupsi. Memangsa yang lemah, dalam tanda kutip.
Bukankah saat ini juga sudah kita faktai? Orang-orang zaman now makan sesuatu bukan lagi karena sesuatu itu kebutuhan dasar, tetapi sebab tengah viral.
Emak milenial membeli lusinan hijab karena sedang trend hijab syar'i. Seorang borjuis mampu membeli mobil sport keluaran terbaru seharga Rp 12 Miliyar (belum termasuk pajak dan biaya ganti oli), sedangkan garasinya sudah sesak kendaraan koleksi. Seorang remaja pecandu Mobile Legend menghabiskan waktunya berjam-jam bersama gawai.
Ketika tubuh merasa lelah, menurun akibat terpapar radiasi, mengkonsumsi makanan yang buruk, menelan toksin, terinfeksi virus.
Berapa harga yang harus dibayar untuk sekedar konsultasi kesehatan? Bagaimana bila hanya obat-obat generik yang mampu dibeli? Kan ada BPJS? Omong kosong.
Faktanya, semakin maju era ini semakin tampak pula jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. Ibarat fenomena gunung es, angka kemiskinan di balik kertas selalu lebih besar dari yang tampak di permukaan.
Bisa jadi, di era robotik nanti, kehidupan bukannya semakin membaik. Kualitas manusia sebagai pribadi yang luhur menurun.
Biaya hidup semakin mahal. Lapangan kerja semakin sempit. Tenaga manusia digantikan dengan robot-robot pintar dengan dalih menekan biaya produksi. Hanya sedikit peluang yang diberikan kepada para bapak, dan hanya yang gesit yang akan survive.
Apakah kreatif bisa membantu agar survive? Belum tentu. Di era baru ini, kapitalislah yang selalu menang. Siapa itu kapitalis? Mereka adalah para pemilik modal.
Merekalah penguasa 99% hajat hidup rata-rata penduduk bumi. Apa yang terjadi jika kemiskinan melanda suatu negeri?
Diperparah lagi lukanya dengan masyarakat minus pengetahuan agama. Banyak orang akan terseret ke dalam lembah perniagaan hitam, jual beli kotor. Seorang ibu tega menjual putri kandungnya di kafe-kafe bordil.
Seorang bapak menjual organ tubuh manusia demi menafkahi keluarga. Seorang renta tak lagi dihargai usahanya, bersaing dengan yang muda.
Pasar bebas mendukung akses penjualan narkoba, prostitusi, human trafficking, bahkan perdagangan senjata. Persaingan siapa yang mampu bertahan akan mendorong seseorang melakukan cara-cara licik.
Tak dipungkiri lagi, bila hari ini saja kriminal dan amoralitas meningkat tajam. Nantinya akan terjadi sepuluh kali lipat peningkatan kualitas kejahatan. Benar saja kata Rasulullah saw, bahwa kemiskinan sangat dekat dengan kemaksiatan.
Disfungsi negara membalikkan peran periayahan masyarakat kepada swasta berakibat fatal membawa dampak ledakan yang tak terbendung.
Ketika serangkaian UU liberal dan UU sekuler diterapkan, kemanfaatan SDA dan SDM dalam negeri sepenuhnya jatuh ke tangan asing asong dan aseng. Malapraktik kekuasaan yang dzalim menjerumuskan umat manusia tak ubahnya kelinci percobaan.
Sementara keberadaan Parpol tak lagi berfaedah memuhasabah penguasa, justru menikung rakyat diam-diam. Sudah begitu, muncul pula ulama jahat yang menjilat kepada penguasa.
Sejatinya, pangkal dari revolusi industri itu sendiri bergantung ideologi yang memboncenginya. Sistem kapitalisme yang mengendalikan Industry 4.0 adalah kamuflase wajah seram dari kejatuhan dan kebinasaan.
Sisi positif perkembangan ilmu pengetahuan tidak menjadikan ilmuan dan cendekiawan Barat semakin mengenal Sang Penciptanya.
Naasnya, hal ini berimbas pula kepada kaum muslim. Enggan ber-Islam kaffaah. Malas-malasan menerapkan Syariat. Serta cenderung berkiblat ke peradaban Barat dan dipaksa menerima Islam nusantara.
Making Indonesia 4.0 merupakan cita-cita kemoderatan yang didikte Barat. Agenda kecil dari sistem kapitalisme agar manusia survive menjadi jongos di negeri sendiri. Dan merupakan klimaks dari persiapan hancurnya sistem tersebut. Kemiskinan dan kriminalitas menjadi alat genosida masa kini. Bukan tidak mungkin, sistem ini akan hancur searah lajunya benturan
kemanusiaan.[MO/ad]

