Oleh: Dian Jatnika
Mediaoposisi.com- Sekitar ratusan tokoh muslimah dari berbagai kalangan dari daerah Banjar,Tasik dan Ciamis berkumpul di salah satu Aula Hotel di Ciamis pada hari Ahad (30/12/2018). Mereka hadir dan berpartisipasi aktif dalam Diskusi Muslimah dengan tema "Menuju Perubahan Hakiki".
Dalam diskusi ini Ustadzah Evi Resmaladewi S.P., mengemukakan bahwa Demokrasi sebagai salah satu pilar Sekularisme telah rusak/rapuh dari akarnya. Sehingga dalam pelaksanaannya banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan.
Puluhan Kepala Daerah ditangkap KPK. Janji pemerintah untuk mensejahterakan hanya sekedar slogan. Ditambah utang LN hingga berjumlah lebih dari 4 ribu Triliun rupiah menjadi ancaman bagi kedaulatan ekonomi Indonesia. Diperparah dengan investasi asing yang kian diperbesar yang akan mematikan pelaku usaha pribumi.
Ustadzah Evi Resmaladewi S.P., juga menyoroti tudingan negatif terhadap Syariah serta kriminlisasi ulama serta pengemban dakwah kian meningkat. Kriminalisasi ini hakikatnya adalah penghadangan terhadap Islam ideologi dan politis.
Pembicara 2 yaitu Ustadzah Ai Suharti S.Pd menguatkan opini bahwa perubahan yang hakiki ini harus dimulai dengan perubahan ideologi. Perubahan hakiki hanya pada perubahan sistem, kemudian sistem aturan ini akan menetapkan sosok pemimpin yang bagaimana yang harus dipilih oleh rakyat.
Islam menggariskan bahwa sosok pemimpin harus memiliki kepribadian Islam yang kuat,negarawan,berani,cerdas dan memiliki kesadaran ruhiyah yang tinggi. Dengan demikian akan terwujud negara yang berdaulat dan mandiri. Semangat perubahan umat di negeri ini dan juga negeri manapun sudah seharusnya diarahkan pada jalan perubahan yang benar.
Acara ini diakhiri dengan pembacaan komitmen oleh moderator, bahwa;
1. Perubahan saat ini merupakan kebutuhan yang mendesak dan mendasar dengan cara kembali kepada Islam (Al Khoir).
2. Perubahan harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw dengan dakwah pemikiran, politis dan tanpa kekerasan.
3.Sejatinya perubahan hakiki adalah perubahan kepada sistem Islam yaitu Khilafah Rasyidah Minhajin Nubuwwah.[MO/sr]

