Oleh: Nasrudin Joha
Mediaoposisi.com-Biasanya ada korelasi terbalik antara kenaikan BBM dengan elektabilitas pemimpin. Semakin BBM dinaikkan elektabilitas pemimpin justru turun. Sebaliknya, semakin BBM turun elektabilitas pemimpin semakin naik. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk Jokowi, dikarenakan :
Pertama, penurunan BBM Jokowi dimasa kampanye ini sudah dipahami publik sebagai sebuah pencitraan politik. Rakyat, tidak hidup pada saat kampanye saja, bahkan bukan hanya hidup untuk satu periode Presiden lima tahun, tetapi sampai menjemput ajal.
Jejak-jejak kezaliman Jokowi -khususnya terkait kenaikan BBM- sangat membekas dan tak mungkin dapat dilupakan rakyat dengan 'permen' penurunan BBM yg hanya ratusan perak. Aneh, kecuali yang mengidap amnesia histori BBM, jika merasa bahagia dan gegap gempita dengan kabar turunnya harga BBM ini.
Kedua, penurunan BBM di musim kampanye itu cuma umpan. Jika dimakan dengan menghebohkan, apalagi sampai memberikan dukungan suara karena kabar penurunan BBM ini, maka saat Jokowi terpilih dan memimpin bangsa ini, dia akan bertindak lebih zalim lagi.
Semua angka penurunan BBM saat kampanye, akan diambil lagi berikut keuntungannya dengan melakukan kenaikan harga BBM berlipat saat telah berkuasa untuk periode selanjutnya.
Ini cuma umpan receh untuk mengelabui rakyat, seolah ingin mengambil persepsi Jokowi Presiden merakyat dengan menurunkan harga BBM. Padahal, yang berkali lipat menaikan BBM ya dia dia juga. Naikin berlipat, nurunin seuprit, setelah itu dia akan Naikin lebih berlipat lagi.
Ketiga, penurunan BBM ini bukan prestasi. Seorang Presiden itu dianggap berhasil bukan semata diukur dari penurunan harga BBM atau bangun jalan tol. Tapi mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Artinya, mampu membuat rakyat produktif, berpenghasilan.
Meskipun semua harga-harga turun, tapi Kalo rakyat Ga punya usaha, Ga punya kerjaan, Ga punya penghasilan, Ga punya duit, mau beli pake apa ? Mau beli pake dengkul ?
Disini Jokowi memang tidak peduli, yang penting BBM turun. Tdk mau tahu, apakah rakyat memiliki daya beli untuk beli BBM, rakyat mampu berproduksi, atau bahkan di negeri ini semuanya justru ditopang oleh TKA China. Banyak usaha, banyak tambang, banyak Projek, tapi yang dapet bagian kue ekonominya TKA China.
Jadi sudahlah, jangan mimpi mengeruk elektabilitas dengan menurunkan harga BBM. Harga BBM Turun, Jokowi juga harus ikut turun. Itu rumus yang sudah diyakini rakyat.
Bahkan, jika BBM tidak turun, BBM naik, tidak ada urusan. Jokowi Tetap harus turun. Semua faktor jika mau ditarik korelasinya dengan Jokowi, kesimpulannya hanya satu : Jokowi harus turun.
Meskipun jika tidak turun sekarang, maka paling lama Jokowi harus turun setelah Pilpres. Ini adalah tulisan yang mewakili pikiran Anda, karena itu share tulisan ini sebanyak-banyaknya, agar semua orang yang menginginkan Jokowi turun lebih cepat memperoleh apa yang dicita-cetakannya. [MO/ge]

