Oleh: Nurdhila Farha
Mediaoposisi.com-Kekerasan terhadap kaum Muslim etnis Uighur di Xinjiang Cina, kembali terjadi. Panel Hak Asasi Manusia PBB pada Jumat (10/8/18) mengaku telah menerima banyak laporan terpercaya, bahwa satu juta warga etnis Uighur di Cina telah ditahan di satu tempat pengasingan rahasia yang sangat besar. Anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB, Gary McDougall, mengatakan sekitar dua juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim dipaksa menjalani indoktrinasi di sejumlah penampungan politik di wilayah otonomi Xinjiang. Pada bulan lalu, lembaga Chinese Human Rights Defenders menyatakan dalam sebuah laporan, 21 persen dari semua penangkapan di Cina sepanjang 2017 terjadi di Xinjiang (Republika.co.id). Kondisi yang sangat mengkhawatirkan ini tidak mendapat respon yang memadai dari dunia internasional, termasuk pemerintah Indonesia. Presiden Jokowi tidak bersuara. Wakil Presiden JK menganggap Indonesia tak dapat ikut campur dalam permasalahan ini karena itu merupakan masalah dalam negeri Cina (Cnnindonesia.com).
Tak perdulinya penguasa terhadap nasib Muslim Uighur mengindikasikan bahwa mereka membenarkan tindakan China. Mereka bungkam, dan semakin menampakkan keberpihakannya kepada asing dan aseng. Rezim sebagai antek asing dan aseng lebih layak disematkan kepada mereka karena ketidakpeduliannya terhadap kaum Muslim.
Mengapa pemerintah Cina melakukan penindasan Muslim Uighur? Penyebabnya hanya satu: karena mereka Muslim. Karena mereka memeluk Islam. Artinya, yang dimusuhi oleh pemerintah Cina adalah segala hal yang berkaitan dengan Islam. Itu pula yang hendak mereka musnahkan dari bangsa Uighur.
Mereka melucuti segala yang berbau Islam. Mereka menutup banyak masjid di Xinjiang. Melarang pria Muslim memelihara jenggot. Memerintahkan pemilik toko menjual alkohol. Melarang umat Islam memberikan nama-nama islami. Mereka membuat kamp-kamp konsentrasi. Mirip rumah tahanan besar. Di situlah mereka berupaya mencuci otak kaum Muslim Uighur dan menanamkan doktrin komunisme.
Bagi kita, semua tindakan mereka bukan sesuatu yang mengherankan. Sebab begitulah sikap kaum kafir terhadap kaum Muslim pada umumnya. Sayang, saat ini tidak ada seorang pemimpin Muslim pun yang mau dan berani mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan mereka. Jangankan memberikan pertolongan secara riil, bahkan sekadar kecaman pun tak terdengar dari penguasa negeri ini.
Semua realitas di atas menambah daftar panjang betapa besar penderitaan umat Islam sekarang. Sebab Uighur tak sendirian. Nasib serupa juga dialami oleh Muslim Rohingya, Pattani Thailand, Moro Philipina, Palestina, Suriah, dan lain-lain. Kita tak bisa berharap banyak pada para pemimpin Muslim saat ini. Khilafahlah satu-satunya harapan.
Semoga kali ini, semua penderitaan kaum Muslim di seluruh dunia, khusunya Muslim Uighur, menyadarkan kita semua bahwa Khilafah sudah saatnya hadir kembali. Tak bisa lagi kaum Muslim menunggu terlalu lama. Saatnya Khilafah Rasyidah 'ala Minhajin Nubuwwah yang kedua ditegakkan di muka bumi ini.[MO/sr]

