Oleh: Rahmah Ruslan
(Mahasiswa Unimed)
Malah mereka yang justru berpakaian tertutuplah yang sering diganggu, dilecehkan, dan sebagainya.
Lihat saja suasana tempat rekreasi di pantai-pantai, bukankah banyak dari wanitanya yang berpakaian minim bahkan maaf hampir telanjang?
Tapi tidak pernah diberitakan bahwa kasus pelecehan terjadi disana. Jadi, siapa kini yang harus di salahkan? Apakah korbannya atau pelakunya?
Untuk menjawabnya perlu kita bahas satu persatu dari penyebab dan dan dampaknya. Manusia dan hewan adalah makhluk yang sama-sama dianugerahi naluri melestarikan keturunan (gharizah nau'), yakni naluri yang timbul tatkala ada rangsangan dari luar.
Di musim kawin, ketika melihat betina, ayam jantan akan langsung mengejar-ngejarnya dan menampakkan pesonanya, lewat kokokan ataupun bertarung dengan jantan lainnya. Ini terjadi secara naluriah sehingga dia tidak akan malu bila ada ayam lain yang melihatnya.
Berbeda dengan manusia, akal adalah proses berpikir yang hanya dimiliki manusia. Dengan akal, manusia dapat membedakan baik dan buruk, termasuk dalam pemenuhan naluri tersebut.
Secara hormonal, laki-laki cenderung memiliki gharizah nau' yang lebih besar ketimbang wanita. Seperti yang penulis katakan tadi, bahwa munculnya keinginan pemenuhannya berasal dari rangsangan luar.
Yakni yang terindra oleh mereka, seperti dengan melihat atau mendengar. Jadi inilah penyebabnya mengapa kasus pelecehan seksual dapat terjadi.
Tidak berhenti disitu, sekarang kita bahas penyebab mengapa lelaki bisa terangsang. Tentu faktornya berasal dari si pemilik kemolekan itu, yakni wanita.
Di dalam Islam, baik laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk menutup auratnya, terutama ketika keluar rumah agar jangan sampai terlihat oleh orang yang bukan mahromnya.
Batas aurat lelaki antara pusat dan lutut sedangkan batas aurat wanita ialah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. (Lihat QS. An-Nur:31, dan Al-Ahzab:59).
Bukan tanpa sebab, wanita merupakan makhluk yang penuh fitnah. Inilah yang hendak dijaga oleh Islam dengan memuliakan kaum wanita. Menutup aurat rapat-rapat dan tidak membentuk lekuk tubuh. Bahkan di dalam surah Al-Ahzab Allah mengatakan agar mereka tidak diganggu.
Namun tidak semua wanita khususnya muslimah mentaati perintahanNya ini. Disinilah letak masalahnya. Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah menutup aurat namun masih tetap diganggu?
Bukankah Allah sendiri telah menjamin wanita yang menutup aurat secara sempurna tidak akan diganggu? Subhanallah, Allah tidak mungkin berbohong.
Bila hal itu tidak sesuai dengan fakta lapangan, maka yang paling mungkin bermasalah adalah manusianya. Sekarang kita lihat fakta yang sebenarnya terjadi. Bila hari ini kita mensurvei laki-laki dewasa dengan pertanyaan "Dapatkah anda membayangkan wanita tanpa sehelai benang?"
Kita tentunya dapat memastikan akan ada banyak lelaki yang menjawab "iya." Maka aurat wanita kini tidak lagi menjadi hal yang tabu. Mereka bisa dengan mudah menemukan aurat yang terbuka di jalanan, di gedung kantor, pesawat, mall, sekolahan, bahkan sengaja mengaksesnya dari internet.
Namun ketika ia melihat wanita yang menutup rapat tubuhnya ia memang tidak terangsang, tapi masih mungkin dalam pikirannya membayangkan bagaimana tubuh wanita. Mengapa? Sebab ia telah memperoleh ma'lumat dari wanita lain yang terbuka auratnya.
Inilah sebenarnya dampak dari adanya rangsangan dari luar sebab wanita tidak menutup aurat dan lelaki tidak menundukkan pandangannya.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa wanita tidak malu menampakkan hal yang seharusnya ia tutup? Jawabannya sangat sederhana. Karena tidak ada aturan yang yang memaksanya untuk menutup aurat. Di negeri ini hal itu malah menjadi sesuatu yang difasilitasi.
Mulai dari tontonan, majalah, maupun di dunia maya. Sistem yang dipakai di negeri ini, tidak membahas masalah aurat apalagi memikirkan dampaknya.
Orang-orang dengan bebas berpakaian sesuka hati atas dasar kebebasan berperilaku yang dijamin Undang-undang. Maka kalau sudah begini, pelecehan terhadap wanita bagaikan lingkaran setan yang tidak dapat dituntaskan karena berjalan sistemik.
Lantas bila masih ada yang berpendapat Don't Blame The Victims, dapat dipastikan dia tidak memahami rentetan peristiwanya.
Lalu siapa yang paling berhak di salahkan, maka jawabannya adalah The System. Peristiwa ini akan terus berlanjut selama bukan sistem Islam yang dipakai. Penerapan secara utuh hanya dapat tegak di bawah naungan Khilafah.[MO/ge]

