Gerindra: Pemerintah Bukalah Hati Nurani Anda, Sudah Jatuh Banyak Korban
Berita Islam 24H - Kembali lagi terjadi kecelakaan pada proyek infrastruktur yang sedang digarap pemerintahan Jokowi.
Teranyar, kecelakaan terjadi pada tiang grider Tol Becakayu yang ambruk pada Selasa dini hari tadi (20/2). Dilaporkan ada tujuh orang pekerja yang menjadi korban. Ketujuh korban tersebut saat ini dalam keadaan kritis di RS UKI Jakarta Timur.
"Bukan kali ini saja terjadi kecelakaan pada proyek infrastruktur. Ini sudah yang kesekian kalinya dari rentetan kecelakaan yang pernah terjadi. Dan setiap kecelakaan selalu saja para pekerja rendahan yang menjadi korban," ujar Ketua Umum Satria Gerindra, Moh. Nizar Zahro.
Dalam bulan ini saja ia mencatat sudah banyak terjadi kecelakaan. Pertama, dinihari tadi di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur. Kedua, ambruknya dinding di Perimeter Bandara Soekarno Hatta sesaat setelah dilewati Kereta Bandara pada 5 Februari lalu. Dalam kecelakaan ini seorang pelintas tewas dan seorang kritis. Dan ketiga, jatuhnya crane pada proyek double-double track di Jatinegara Jakarta Timur yang mengakibatkan empat pekerja tewas.
"Sedari awal sudah banyak pihak yang mengkritik pengerjaan proyek yang dilakukan secara kalap. Tenaga rakyat kecil dipacu untuk memenuhi ambisi presiden. Proyek dikebut siang dan malam untuk mengejar acara peresmian yang akan oleh presiden," kata Nizar mengkritisi.
Porsi kerja yang di luar kemampuan manusia menjadikan proyek terkesan dikerjakan asal-asalan. Maka ia tidak heran jika satu-per satu mulai bermunculan kecelakaan. Ironis lagi kata dia, meskipun sudah berkali-kali jatuh korban, tidak ada evaluasi yang dilakukan.
"Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa pemerintah tidak memperdulikan hujan kritik dari masyarakat. Dan proyek-proyek pun terus dikerjakan dengan tidak mengindahkan keselamatan pekerja dan masyarakat yang melintas," kecamnya.
Menurut dia, pengerjaan proyek yang sarat dengan kecelakaan menjadikan proyek infrstruktur yang sedang digarap pemerintak tak ubahnya proyek kerja rodi di zaman kolonial Belanda atau romusha di era penjajahan Jepang.
"Nyawa rakyat sama-sama dihargai dengan murah karena yang terpenting proyek harus selesai sesuai target. Bila di era kolonial, bila ada pekerja yang lambat maka akan dihukum cambuk. Sementara di era sekarang, pekerja yang terkesan lambat bisa terancam dipecat," jelasnya.
Kerja di bawah tekanan super berat itulah yang menjadikan pekerja kehilangan kemampuan terbaiknya sehingga menghasilkan proyek infrastruktur berlabel asal jadi. Ia pun mengimbau bagi para pekerja yang sedang menggarap proyek tetap jaga kewaspadaan.
"Jangan sampai menjadi korban yang berikutnya. Masyarakat yang melintas atau sedang memakai proyek infrastruktur juga harus hati-hati. Dan pemerintah sebagai penanggung jawab proyek, bukalah hati nurani Anda, sudah banyak korban berjatuhan. Hentikanlah ambisi yang kalap tersebut," tegasnya. [b-islam24h.com / rmol]

