-->

Perang Abadi : Perang Ideologi

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen

Oleh : Ahmad Sastra

Mediaoposisi.com-Allah menyinggung dalam Al Qur’an bahwa bisa jadi sesuatu yang kita benci adalah yang baik dan yang kita cinta bisa jadi justru tidak baik. Salah satu contohnya adalah perang, bisa jadi tidak disukai banyak orang, tapi Al Qur’an justru membahasnya.

Telah ditegaskan oleh Allah  bahwa orang-orang kafir akan terus membenci muslim dan mereka tidak akan pernah rela sebelum kaum muslim mengikuti agama dan gaya hidup mereka [QS Al Baqarah : 120]. Begitupun dengan orang-orang munafik, mereka akan terus menghadang dan menghalang-halangi dakwah dan perjuangan Islam.

Kaum munafik lebih berbahaya karena ibarat musuh dalam selimut yang memiliki dua muka, mulutnya menyukai muslim, tapi hatinya cenderung kepada kekufuran. Orang munafik hatinya cenderung mencintai orang kafir dan senang mengkhianati perjuangan Islam.

Kafir dan munafik selamanya akan terus merayu dan mengganggu orang mukmin, “ Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS Al Ahzab : 48)

Sementara gerombolan munafik akan terus menghalangi, menjegal, mempersekusi dan merintangi perjuangan tegaknya Islam. Abdullah bin Ubay adalah sosok munafik di zaman Rasulullah yang dilaknat oleh Allah, karena mengkhianati Allah dan RasulNya.

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS Annisa : 61).

Al Qur’an merumuskan bahwa di dunia ini adalah dua kondisi yang akan terus bertentangan, yakni haq dan bathil.

Kebenaran yang diwakili oleh Rasulullah dan kebatilan yang diwakili oleh setan hingga kiamat akan terus berperang. Setan selamanya akan memusuhi mukmin dan mengajak kepada neraka. Kebenaran diwakili oleh mukmin dan kebatilan diwakili oleh kafir dan munafik.

Allah berfirman, “Dan katakanlah [Muhammad], wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan pula aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolong[ku]”. [QS Al Isra : 80]

Ayat ini berkaitan dengan perjalanan hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah untuk menegakkan daulah Islam. Permusuhan kaum kafir Quraisy di Mekkah kepada Rasulullah sangat keras, hingga Allah memerintahkan hijrah dan menegakkan daulah Islam di Madinah.

Saat Islam tegak di madinah itulah, Rasulullah memiliki kekuasaan dengan sebelumnya menolak berbagai bentuk tawaran rezim jahiliyah kafir Quraisy. Kematian adalah lebih baik daripada harus bergabung dengan rezim zolim kafir Quraisy.  Namun Allah justru memenangkan Rasulnya dengan tegaknya Daulah Islam.

Tegaknya Daulah Madinah adalah sebuah kemenangan atas pertolongan Allah. Hukum Islam diterapkan secara kaffah di semua aspek kehidupan. Jika Daulah Islam tidak tegak, maka kebatilah akan terus merajalela. Jika Daulah Islam tegak, maka kebatilah telah lenyap.

Kondisi ini sesuai dengan firman Allah, “Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang bathil telah lenyap, sungguh yang bathil itu pasti lenyap”.  [QS Al Isra’ : 81]  Daulah Islam Madinah adalah prototype paling sempurna sebuah negara yang didalamnya diterapkan Islam secara menyeluruh.

Al Qur’an dijadikan sumber perundang-undangan untuk mengatur segala urusan kenegaraan dan kerakyatan. Sebab Al Qur’an adalah kebenaran itu sendiri. Maka Al Qur’an bagi mukmin adalah solusi, meskipun bagi manusia zolim adalah sebaliknya.

Perhatikan firman Allah, “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an [sesuatu] yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zolim, [Al Qur’an itu] hanya akan menambah kerugian [QS Al Isra : 82].

Saat terjadi penganiyaan oleh kafir Quraisy di Mekkah, maka sikap Rasulullah adalah bersabar dengan terus berdakwah, meski banyak sahabat yang syahid karena disiksa. Namun Rasulullah tidak pernah membalas juga tidak pernah menyerukan jihad perang melawan kafir Quraisy.

Namun saat Daulah Madinah berdiri dengan struktur kenegaraannya, maka berbagai peperangan melawan kaum kafir diserukan oleh Rasulullah. Musuh-musuh Allah yang selalu membangkang dan menyerang kaum muslimin berhasil dikalahkan oleh Rasulullah dan pasukannya.

Peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah melawan kebatilan dan kekufuran kaum kafir adalah untuk mewujudkan perdamaian. Kebenaran Islam adalah mutlak dan kebatilan kafir adalah mutlak pula. Itulah mengapa banyak kaum kafir yang saat itu tersadar dan masuk Islam.

Berakhirnya berbagai peperangan dan lahirnya perdamaian, bukan berarti perang selesai sama sekali. Justru Rasulullah mengingatkan bahwa umat Islam akan memasuki kembali suasana perang yang lebih besar, yakni perang melawan hawa nafsu setan.

Allah menegaskan bahwa setan sebagai musuh nyata akan terus memerangi orang mukmin, “Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.  [QS Az Zuhruf : 62]

Ketika setan telah berkuasa dalam diri manusia, maka setan akan dijadikan sebagai tuhan selain Allah. Mereka menyembah hawa nafsu, sebagaimana firman Allah : “Dan terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ?” [QS Al Furqon : 43]

Di zaman sekarang, saat setan berkolaborasi dengan orang-orang munafik maka lahirlah ideologi demokrasi sekuler liberal. Saat setan berkolaborasi dengan orang-orang kafir lahirlah ideologi komunisme ateis. Kedua ideologi itu adalah musuh abadi Islam.

Karena itu perang adalah selamanya, maka umat Islam harus menyiapkan diri menjadi pasukan yang kuat, baik secara fisik saat menghadapi perang akhir zaman maupun secara batin agar mampu mengalahkan perang melawan setan.

Saat kita mampu mengalahkan setan dan mampu menenegakkan Islam di bumi Allah sebagaimana negara madinah pimpinan Rasulullah, maka itu maknanya umat ini telah memasuki Islam secara kaffah. Jika masih sekuler negeri ini, maka seluruh tata kelola negeri ini sejatinya berasal dari setan. Setan adalah musuh yang rusak dan merusak, sesat dan menyesatkan, hancur dan menghancurkan.

Karena itu marilah kita sekuat tenaga berjuang melawan hawa nafsu setan dan berjuang sekuat tenaga berdakwah demi tegaknya daulah Islam di bumi pertiwi dan seluruh muka bumi ini. Indonesia maupun bumi ini sungguh milik Allah, mari kita kembalikan pengaturannya kepada Allah dengan Al Qur’an dan As Sunnah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah [keseluruhan], dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu [QS Al Baqarah : 208].

Semoga kita semua, digolongkan oleh Allah sebagai pejuang agama Allah, penolong agama Allah dan mujahid-mujahid Allah. Semoga kita digolongkan Allah sebagai golongan mukmin, dan dijauhkan dari sifat kekufuran dan kemunafikan. Semoga kita masih bisa menyaksikan puncak kejayaan Islam akhir zaman, jikapun tidak bisa, semoga kita dimatikan oleh Allah dalam keadaan muslim.

Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. [QS Ali Imran : 102]. [MO/ge]

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close