-->

Pak Jokowi, Bukan Pengalaman, tapi komitmen menerapkan syariat Allah

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen
Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Lucu, jika pak Jokowi menyaratkan bahwa seorang pemimpin negara harus punya pengalaman karena pak Jokowilah yang pasti akan menang pada pertarungan pilpres 2019 nanti jika syarat itu diberlakukan.

Disampaikan dalam pidatonya di acara deklarasi alumni sejumlah universitas di Plaza Tenggara GBK Senayan Jakarta, dia berkata bahwa jangan coba-coba memimpin negara jika tidak punya pengalaman. Ini ternyata membuat gerah pak Sandiago Uno cawapress nomor urut 2.

Tidak ada jaminan yang berpengalaman akan memimpin lebih baik dari pada yang tidak. Sebelum menjabat presiden, pak Jokowi juga belum punya pengalaman memimpin negara. Itu berarti pertama memimpin adalah coba-coba dan rakyat yang menjadi korbannya.

Kenapa pak Jokowi coba-coba aturan buatan manusia, padahal ada yang pasti benarnya, yakni syariat Allah. Aturan buatan Allah pasti benar dan tepat untuk mengatur kehidupan manusia karena Allah yang menciptakan  manusia jadi Allah Maha Mengetahui aturan apa yang paling untuk Manusia.

Mana yang Lebih baik, terbukti gagal atau belum terbukti gagal karena memang belum mempunyai kesempatan memimpin negara ini.

Jika pemimpin yang belum berpengalaman mempunyai komitmen menerapkan syariat Islam pasti akan lebih baik dari pada yang berpengalaman tapi masih coba-coba menggunakan aturan buatan manusia dalam sistem demokrasi.

Sudah terbukti bahwa khilafah adalah sistem terbaik yang pernah diterapkan di muka bumi ini.  Khilafah telah terbukti mampu melindungi dan mensejahterakan rakyatnya.

Penyakit masyarakat seperti prostitusi tidak akan tumbuh dalam sistem Islam karena pacaran dan zina adalah dosa besar. Negara akan mandiri dan merdeka dari pengaruh asing dan aseng.

Negara akan segera menyelesaikan utang luar negeri yang berbasis riba yang menjadi penyebab kehidupan tidak berkah dan tertutupnya pintu rezeki dari langit dan bumi.

Kekayaan alam akan dikelola sendiri dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk rakyat Indonesia. Seluruh rakyat hidup sejahtera.

Kepribadian Islam sebagai landasan dalam pendidikan, sehingga terbentuklah pribadi-pribadi unggul yang takut pada Allah yang siap menjadi pemimpin masa dapan yang membawa negera ini ke arah perubahan yang lebih baik.

Terbukti bahwa demokrasi adalah sistem yang gagal. Demokrasi adalah ide utopis yang ingin membangun masyarakat yang adil, sejahtera dan beradab diatas prinsip kebebasan berpendapat dan bertingkah laku. Faktanya, rakyat hidup sengsara dan menderita.

Sementara, hanya segelitir orang yang menikmati kekayaan negeri ini. Diskriminasi pelayanan publik itu biasa. Ada kelas dalam pelayanan kesehatan. Keadilan adalah ide utopis dalam sistem demokrasi.

Masyarakat yang tidak beradab menjadi ciri masyarakat demokrasi. Prostitusi meraja lela karena pacaran dan zina dianggap biasa. Riba  dosa besar menjadi pilar perekonomian negara. Hidup susah karena tidak berkah.

Banyak bencana alam bertubi-tubi karena mempersekusi ulama' dan memonsterisasi ajaran Islam. Katanya demokrasi berdiri diatas prinsip kebebasan berpendapat ternyata ide itu hanya hayalan, ide utopis.

Masihkah pak Jokowi mau coba-coba menggunaka aturan buatan manusia dalam sistem demokrasi. Lalu untuk apa sebuah pengalaman, jika harus gagal lagi.

Rakyat tidak mau dibuat kelinci percobaan untuk yang kedua kalinya. Kalau memang tidak sanggup memimpin negara ini serahkan pada yang lain, pemimpin yang mempunyai komitmen untuk menerapkan Islam secara kaffah.[MO/AD]



Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close