Oleh: Mila Sari, S.Th.I
Mediaoposisi.com-Menjelang malam penyambutan tahun baru Masehi, banyak diantara masyarakat yang menyambutnya dengan bersuka ria terlebih dari kalangan remaja.
Seolah penyambutan tahun baru Masehi sudah membudaya bahkan dikalangan kaum Muslimin sendiri, padahal tahun baru kita sebagai kaum Muslimin adalah tahun baru Hijriyah bukan tahun baru Masehi. Mirisnya,
terkadang perayaan tahun baru Masehi ini tidak hanya diisi oleh kegiatan-kegiatan yang bermanfaat saja, bahkan sebagian orang cendrung melakukan tindakan negatif yang merugikan diri sendiri bahkan masyarakat secara umum saat menyambut pergantian tahun.
Seperti yang di realis dalam detikNews.com 1 Januari 2019 yang lalu, sebanyak 48 ABG di Padang terciduk oleh satpol PP melakukan perbuatan mesum dimalam tahun baru (https://m.detik.com). Bahkan diantaranya ada ABG yang masih berusia 17 tahun, sebelum digelandang ke Markas Satpol PP, keduanya digerebek massa di dalam kamar kos yang ada di kawasan Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Senin (31/12/2018) malam.
"Keduanya diamankan oleh warga setempat. Demi menjaga keamanan pasangan tersebut dari amukan massa, keduanya kita amankan dahulu ke Mako," kata Yadrison, Kepala Satpol PP Kota Padang, kepada detikcom, Selasa (1/1/2019) siang.
Selain menahan kedua remaja mesum tersebut, Satpol PP menangkap 46 orang lainnya yang merupakan pasangan lain jenis. Mereka tertangkap di beberapa lokasi, seperti di Hotel, penginapan, bahkan di parkiran SPBU.
Mereka diduga memanfaatkan momen pergantian tahun untuk keluyuran hingga larut malam dan berbuat asusila. Satpol PP juga memanggil seluruh keluarga mereka yang terjaring ini untuk datang dan membuat perjanjian khusus.
Itulah segelintir fakta yang telah mencederai kaum muda saat perayaan tahun baru, ini hanya dilihat pada satu kasus dan satu tempat, masih banyak kasus-kasus di tempat-tempat yang berbeda yang tak kalah mirisnya.
Tentu hal ini tidak terlepas dari paham kebebasan yang telah berurat di dalam diri masing-masing individu. Rasa ingin bebas menikmati keinginannya tanpa dilandasi oleh keimanan dan kesadaran bahwa dalam perbuatan tersebut telah melanggar norma dan batasan yang seharusnya tidak boleh dilanggar.
Hal ini wajar terjadi, karena kita berada pada sistem yang mana negara berfungsi sebagai kontrol kebebasan individu. Bebas berekspresi, bebas beraqidah, bebas hak milik dan bebas dalam menyampaikan pendapat.
Tindak asusila sejatinya adalah tindakan yang telah diharamkan dalam Islam, karena Islam begitu menjadi kesucian dan kehormatan, namun saat ini atas dasar kebebasan orang rela merenggut kehormatan dan kesucian diri dengan cara yang hina.
Bahkan Syari'at Islam telah melarang kita untuk mendekati zina, apalagi melakukannya semata demi menjaga kesucian diri. Dan tentunya tindakan asusila juga termasuk kriminal, penyakit masyarakat yang harus dimusnahkan karena hanya akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat terlebih ditengah-tengah kehidupan beragama.
Ikut merayakan penyambutan tahun baru merupakan suatu perilaku yang keliru, karena jangankan untuk merayakan mengucapkan selamat natal saja terlarang dalam Islam. Bila ini dilakukan maka jelas dekadensi atau pengikisan moral akan terjadi pada tubuh ummat.
Itulah gambaran bila paham sekularisme (kebebasan) berlaku ditengah-tengah masyarakat, akan mengakibatkan dekadensi moral.
Sejatinya hanya Islam yang mampu menjamin manusia agar terjaga Aqidah dan kehormatannya, tentunya dengan menerapkan segenap aturan yang telah Allah SWT gariskan untuk mengatur kehidupan manusia.
Penjagaan Aqidah salah satunya dengan pelarangan mengucapkan hari raya agama lain dan penjagaan kehormatan diri yang mesti dengan pasangan yang dihalalkan saja dapat melakukan hubungan suami istri serta menjaga interaksi menurut Syari'at-Nya.
Hanya Islam lah yang dapat mengantarkan kita menjadi Ummat Terbaik yang diciptakan Allah SWT untuk menebar kebaikan pada sesama, sudah saatnya kita kembali pada aturan yang mampu memuliakan manusia.
Tentunya dengan menerapkan Islam sebagai sebuah negara yang akan menjamin berlakunya Syari'at untuk mengatur dan menjaga generasi yang mulia ini.[MO/sr]

