Mediaoposisi.com-Tertindas, terluka dan tersiksa, mungkin rentetan kata itulah yang menggam-barkan rona wajah dari kaum muslim sekarang.
Belum lama luka ini sembuh, kini ia menganga begitu nyata dan kian dalam. Belum sembuh duka dan pilu ini terhadap saudara-saudara kita Rohingya dan Ghouta, kini saudara kami ditindas dan disiksa kembali. Selalu kaum Muslim yang menjadi korban. Mengapa hal ini terjadi? Terus dan terus saja terjadi tanpa henti.
Kemudahan utang luar negeri Indonesia kepada China diduga membuat pemerintahan Presiden Joko Widodo ogah menyuarakan protes atas kasus dugaan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang terjadi pada kelopok muslim Uighur di Xinjiang, China.
Ketua Majeli JAringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) Syafti Hidayat menduga, hubungan kedekatan antar kedua pemerintahan RI-China saat ini yang membuat Jokowi enggan melakukan protes.
Kemudian diduga pula Jokowi tak mau ikut ambil pusing karena saat ini sudah menjelang ajang Pilpres tahun 2019. Terlebih lagi, selama empat tahun ini utang luar negeri Indonesia terhadap China tak bisa dibilang sedikit. Makanya dia menilai sikap pemerintah tersebut hanya karena agar tidak ada kesulitan dalam mengajukan utang kembali. (m.eramuslim.com, 14/12/2018)
Kejadian yang menimpa saudara kita muslim Uighur adalah salah satu rentetan dari berbagai kejadian yang telah menimpa kaum Muslim. Belum lama, Ghouta pun menangis namun tak ada satu negara-pun yang turut andil perihal membantu mereka.
Sebelum itu saudara kita Rohingya pun merintih dan meminta pertolongan. Namun yang terjadi dunia tetap diam membisu tak ada suara atau tindakan yang segera dilakukan oleh para penguasa kaum muslim.
Mana para penggiat HAM itu? Nyaris hilang ditelah bumi. Ketika kaum Muslim yang menjadi korban maka suara mereka tidak ada. Tak ada secuil perasaan kemanusiaan dalam diri mereka? Setidaknya karena sesama manusia.
Pandangan Islam
Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantara malaikat Jibril. Sempurna dan paripurna, itulah adanya. Tak hanya mengatur masalah ibadah manusia dengan Rabb-nya saja, namun lebih lengkap dari itu.
Islam mengatur hal lainnya yaitu hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan dirinya sendiri. Semua itu ada aturan dan tata caranya secara jelas terpampang dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi SAW.
Terkait dengan kasus di atas maka Al Qur’an dan Hadist telah jelas menerangkan. Hal tersebut tercantum dalam beberapa surat. Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Maidah ayat 32 dan An-Nisa ayat 93.
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Maidah: 32).
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. An-Nisa: 93)
Kemudian Sabda Rasulullah SAW, “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.”
Subhanallah, begitu mulia dan berharganya nyawa seorang muslim. Sampai-sampai Allah SWT sendiri berkata akan memberikan azab yang sangat pedih manakala ada orang dengan sengaja membunuh seorang muslim.
Bahkan tertuang dalam hadist Nabi yang mengatakan bahwa hancurnya dunia ini lebih ringan dari pada terbunuhnya seorang muslim. Begitu luar biasanya penjagaan Islam terhadap nyawa seorang muslim.
Fakta Sejarah
Ada fakta sejarah yang terjadi ketika Rasulullah ada. Kejadian tersebut adalah tentang pembunuhan manusia. Yaitu, terbunuhnya seorang muslim di Pasar Bani Qainuqa. Pelaku pembunuhan tersebut adalah Yahudi dari Bani Qainuqa.
Lelaki muslim tersebut dibunuh karena membela seorang muslimah yang dilecehkan kehormatannya. Saat itu, Rasulullah bersikap tegas. Ketegasan beliau tampak dari pemberian hukuman terhadap pelaku dan pada kelompoknya.
Pelaku pembunuhan diberikan sanksi hukuman mati dan bagi kelompoknya diusir dari kota Madinah. Rasulullah melakukan hal tersebut tidak lain adalah sebagai bentuk penghargaan Islam terhadap nyawa manusia serta perlindungan kepala negara terhadap rakyatnya.
Sungguh kejadian yang semestinya diteladani dan dilakukan. Selama ini kaum muslim selalu saja ditekan, ditindas, dianiaya dan diberikan perlakuan yang tidak manusiawi. Kejadian di atas akan terus terjadi dan berulang kembali manakala sistem yang diterapkan bukan berasal dari Islam.
Ditambah lagi dengan tidak adanya institusi yang berdiri untuk melindungi kaum muslim. Karena sejatinya dalam Islam nyawa dan harta akan dijaga dengan sebaik-baiknya. Orang tidak boleh sembarangan dalam hal mengambil barang orang lain tanpa seizin sang pemilik. Begitu pula dengan membunuh, tidak boleh sembarangan dalam melakukannya jika tidak ada alasan yang benar.
Pemimpin dan Institusi
Rentetan kejadian demi kejadian yang menimpa pada kaum muslim di berbagai belahan dunia ini akan makin menyadarkan kita bahawa umat butuh seorang pemimpin yang mampu melindunginya yaitu khalifah.
Tak hanya itu, umat juga perlu sebuah institusi atau negara yang mampu membela, melindungi serta menjaga mereka dari berbagai tipu daya kaum kafir. Imam (Khalifah) itu laksana perisai, kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).
Adapun dengan pemimpin (Khalifah), sebagaimana dalam hadist Nabi di atas menyebutkan bahwa dia adalah sebagai perisai (junnah).
Umat berperang di belakang serta berlindung dengannya. Khalifah adalah pelindung umat dari segala bahaya yang akan menimpa pada harta, jiwa, akal, kehormatan serta agamanya. Sehingga tidak akan mungkin pembunuhan merajalela dan dibiarkan begitu saja.
Sangat jauh berbeda dengan kondisi sekarang, membunuh, menyiksa menjadi hal yang biasa terjadi dan menimpa kepada kaum Muslim. Hal tersebut bahkan dibiarkan oleh para pemimpin Muslim. Menjadi fenomena yang biasa terjadi. Lantas masihkah kita berdiam diri serta membiarkan hal itu terjadi? Dan apakah kita tetap membisu dengan kejadian seperti ini?
Sosok pemimpin yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah yang patut ditiru dan dilaksanakan.
Melindungi, menjaga serta meriayah rakyat menjadi kewajibannya yang harus ia lakukan. Karena kelak di Yaumil Akhir akan dimintai pertanggungjawabannya. Semua itu dapat terwujud jika manusia mau menerapkan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh).
Tentu dengan adanya bingkai atau institusi yang mau menerapkan syariah tersebut secara sempurna. Akhir kata, marilah melangkah bersama, satukan tujuan (berjuang bersama) untuk mewujudkannya agar kehormatan dan nyawa kaum muslim dapat terjaga. Agar kejadian genosida tidak akan pernah terulang kembali. [MO/ge]

