-->

Ketidak Seriusan Pemerintah Dalam Mitigasi Bencana

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen

Oleh : Dania Azzahrah

Mediaoposisi.com-Bencana tsunami menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda, di antaranya di pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

Ahli ekologi dan evolusi Krakatau dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Tukirin menjelaskan kemungkinan penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda karena longsoran bawah laut. Menurutnya, longsoran tebing bawah laut biasanya tak menimbulkan gelombang besar, namun kondisi pasang air laut menyebabkan terjadinya gelombang tinggi.

Sependapat dengan yang dikemukakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa longsor di tebing bawah laut menyebabkan tsunami kecil di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam.

Tukirin sebagai ahli yang mempelajari perkembangan kehidupan Gunung Anak Krakatau itu, menjelaskan bahwa gunung yang terus tumbuh tersebut menimbun material vulkanik di bagian atas sehingga menyebabkan dinding yang terjal di bagian bawah gunung.

Tebing bawah laut yang semakin terjal di bagian bawah Gunung Anak Krakatau bisa terjadi longsor apabila ada getaran kuat akibat aktivitas vulkanik, yang mungkin juga ditambah dengan hempasan gelombang arus laut.

Hal yang masih dipertanyakan sejumlah pihak. Hal tersebut lantaran tidak adanya peringatan kebencanaan dari tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanologi erupsi Anak Krakatau tersebut. Hal itu juga yang menjadi sorotan media asing, NBCnews dalam laporannya, Ahad (23/12) waktu setempat, berjudul "Mengapa tsunami menerjang Indonesia tanpa peringatan".

Profesor emeritus ilmu bumi di Universitas Northwestern, Emile Okal, menyebut gunung berapi adalah sesuatu yang terus hidup. "Ini adalah sesuatu yang secara geologis tidak dalam kondisi stabil kapan pun," ujar Emile yang telah mempelajari tsunami selama 35 tahun.

Okal mengatakan, untuk mendeteksi tsunami dengan benar, Indonesia perlu menghabiskan sekitar satu miliar dolar untuk teknologi dan tenaga sepanjang waktu di sepanjang wilayah pesisirnya. Menurutnya, bahkan pada saat itu bukan jaminan bahwa peringatan akan datang pada waktunya.

Mitigasi bencana adalah bagian dari tanggung jawab penguasa dalam mengurus dan melindungi umat yang diwajibkan oleh Islam.

Sebagai seorang Muslim kita tentu mengembalikan semuanya kepada Allah swt., gejala alam Indonesia yang tidak menentu merupakan satu dari beberapa faktor terjadinya bencana. Bisa jadi ini semua ujian dan disisi lain teguran kecil dari Allah agar kita kembali melaksanakan perintah-Nya.

Ibnu ‘Abbas ra. berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka.

Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami.?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.”

Hakikatnya, bencana adalah sesuatu yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan. Pandangan ini memberikan arah bahwa bencana harus dikelola secara menyeluruh baik pada masa sebelum, pada saat terjadi dan setelah kejadian bencana.

Oleh karena itu dibutuhkan sebuah manajemen khusus untuk menanganinya. Saat ini, dalam pengelolaan manajemen bencana, telah terjadi beberapa pola pergeseran pandangan, yaitu dari bersifat memberi tanggapan menjadi bersifat pencegahan, dari urusan pemerintah menjadi partisipatif masyarakat, dari tanggung jawab beberapa sektor menjadi tanggung jawab berbagai sektor, serta, dari pola menangani dampak menjadi mengurangi risiko.

Dahulu ketika sistem Islam masih ada, para penguasa tidak hanya terfokus penanganan pasca terjadinya bencana namun juga langkah preventif yang diambil oleh penguasa. Di Turki, untuk menangkal gempa, orang membangun gedung-gedung tahan gempa. 

Sinan, arsitek Sultan Ahmet yang fenomenal dizamannya, membangun mesjid itu dengan konstruksi beton bertulang yang sangat kokoh serta pola-pola lengkung berjenjang yang dapat membagi dan menyalurkan beban secara merata. 

Semua masjid yang dibangunnya juga diletakkan pada tanah-tanah yang menurut penelitiannya saat itu cukup stabil.  Gempa-gempa besar di atas 8 Skala Richter yang terjadi di kemudian hari terbukti tak membuat dampak sedikitpun pada masjid itu, sekalipun banyak gedung modern di Istanbul yang justru roboh.

Walhasil bencana-bencana alam selalu ditangkal dengan ikhtiar, tak cukup sekadar pasrah saja.  Penguasa Kekhilafahan Islam pada saat itu menaruh perhatian yang besar agar tersedia fasilitas umum yang mampu melindungi rakyat dari berbagai bencana. 

Mereka membayar para insinyur untuk membuat alat dan metode peringatan dini, mendirikan bangunan tahan bencana, membangun bunker untuk cadangan logistik, hingga melatih masyarakat untuk selalu tanggap darurat.

Tak lupa menjadikan setiap bencana sebagai nasihat bagi diri bahwa lemahnya manusia sebagai makhluk Allah bahwa tidak ada satupun zat yang mampu menyelamatkan jiwa kita kecuali Allah.

Berawal dari sifat lemah dan terbatas ini seharusnya menjadikan manusia mengabaikan hak Allah dalam mengatur kehidupan dunia.
Aturan yang dibuat haruslah bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah bukan buatan manusia yang cacat terlebih jika aturan yang dibuat atas dorongan hawa nafsu.[MO/ge]

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close