-->

Usai Reuni 212, Lalu Mau Apa?

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat
Advertisemen

Oleh: Yuli Ummuraihan
(Member Akademi Menulis  Kreatif)

Mediaoposisi.com-Reuni 212 telah usai, dan terlaksana dengan penuh kedamaian. Ada banyak kisah ,kesan dan pesan usai acara ini.

Status di Media sosial seminggu pasca aksi masih dipenuhi kisah seputar 212. Berbeda dengan media cetak dan digital yang mendadak bisu, tuli, dan buta akan aksi yang dihadiri jutaan  umat manusia bukan hanya khusus Muslim bahkan tak sedikit non muslim ikut aksi fenomenal ini.

Meski aksi ini minim perhatian media lokal, tapi justru diapresiasi oleh banyak pihak luar bahkan menginspirasi negara tetangga Malaysia melalui aksi 812 kemarin.

Reuni 212 kali ini memang sangat layak diacungin jempol, kalimat tauhid telah mampu mempersatukan umat, pengokoh iman, dan menjadi kekuatan besar.

Mengutip pernyataan Rocky Gerung  kuantitas membawa kualitas, dan ini adalah sejarah yang justru disembunyikan pers nasional. Belum ada sejarahnya dinegara manapun didunia ini bisa mengumpulkan massa begitu banyak, dan membawa banyak kisah.

Lalu setelah aksi ini usai, akankah semua kisah dan ceritanya hanya akan jadi sejarah saja, pengantar tidur, atau sekedar kenangan tanpa makna?

Tentu tidak! Karna ada banyak  pesan  tersirat dan tersurat  dalam perhelatan ini diantaranya:

Pertama, adanya semangat persatuan.  Siapapun bisa melihat reuni 212 kemarin membuktikan tak adalagi perbedaan baik mazhab, ormas, harakah, partai, kepentingan, atau golongan.  Semua melebur menjadi satu baik dari ujung negri, desa, kampung, kota ,seolah satu komando berduyun-duyun menuju Monas. Inilah contoh ketika perasaan telah bersatu maka tak ada lagi kau, aku, dan dia yang ada hanya kita yaitu mujahid 212.

Kedua, kebangkitan Islam.
Tak bisa kita pungkiri semangat persatuan umat dengan berbagai latar belakang pendidikan, sosial, ormas, akan memicu kebangkitan yang sesungguhnya. Kebangkitan yang tak hanya didasari perasaan, tapi juga pemikiran. Pemikiran bahwa ada yang salah dengan tatanan kehidupan kita saat ini, umat Islam itu hebat, kuat, dan bisa memimpin dunia bukan sekedar objek penderita  sistem.saat ini. Aksi kemarin juga sekaligus show of soft bagaimana umat Islam yang bersatu tak bisa dikalahkan.

Ketiga, Teladan
Siapapun yang melihat atau merasakan langsung aksi kemarin maka akan merasakan damai dan penuh cinta kasihnya reuni 212. Tak ada amarah, benci, yang ada adab yang mulia, kasih sayang, sopan santun, dan kepedulian serta berbagi kebahagiaan.
Semua menebar senyum, sikap ramah dan bersahabat. Tak ada yang anarkis, bahkan rumputpun tak ada yang tersakiti. Ini membantah secara langsung berbagai tudingan buruk menjelang aksi. Wajah Islam yang rahmatan lil alamin tergambar jelas dalam aksi kemarin. Tak ada yang berebut makanan, saling dorong, saling mendahului, dan saling serobot bahkan tak ada yang kehilangan seperti ditempat keramaian lainnya yang rawan pencopetan dan tindakan kriminal dan asusila  pada umumnya.

Keempat, peringatan bagi semua pihak khususnya penguasa.
Tak bisa kita mungkiri aksi 212 ini dipicu insiden pembakaran bendera tauhid saat perayaan hari santri beberapa saat lalu. Ketidakpuasan umat akan hasil vonis terhadap tersangka yang hanya diganjar kurungan 10 hari dan denda Rp.2000,_ tak membuat umat puas, bahkan makin greget. Tindakan kriminalisasi ulama, persekusi dakwah, dan sederet ketidak adilan kebijakan penguasa saat ini menggelinding bak bola salju yang akhirnya terkumpul di Monas.

Seharusnya penguasa mengambil pelajaran dari kejadian ini, berkaca, dan introspeksi diri bukan curiga berlebihan dan antipati.
Umat sudah bosan dan jengah ,dorongan ghorizah baqo terus muncul dan butuh pelampiasan.
Seharusnya penguasa saat ini bisa memdengar apa aspirasi rakyat khusuanya umat Islam dan mencari jalan keluar atau win-win solution bukan politik belah bambu.

Kelima, kekuatan ekonomi Islam.
Bayangkan dan silahkan hitung berapa besar dana atau perputaran uang dalam aksi kemarin.
Biaya transport, akomodasi, penginapan, konsumsi, atribut tauhid yang diproduksi, pedagang makanan dan minuman, dll
Ini membuktikan kekuatan ekonomi umat Islam itu begitu potensial dan bila dikelola dengan baik dan benar tentu akan membawa kesejahteraan.

Keenam, titik awal perubahan.
Perubahan dari pemikiran jahiliyah kepada Islam, perubahan cara pandang, perubahan sikap politik, perubahan yang revolusioner. Jika dulu tak banyak yang tau bendera tauhid al liwa dan ar roya maka aksi kemarin seperti edukasi dan promosi massal agar umat tau dan bangga akan simbol keislamannya. Maka tak beda jauh dengan sistem Islam yaitu Khilafah kelak akan disebut disetiap rumah, kantor, lembaga pendidikan, media sosial, pasar, dan disetiap kondisi umat akan mantap menjawab bahwa khilafahlah satu-satunya solusi problematika kehidupan ini wallahu a'lam bishowab.[MO/sr]

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
close