Oleh: Mahfud A. - Indonesia Change
Alhamdulillah, masih bisa seruput kopi setelah sarapan nasi sambel terasi di pagi cerah ini (ow yes!). Sesekali baca-baca postingan-postingan di grup-grup WA, postingan-postingannya warna-warni termasuk penutupan Alexis (alhamdulillah… moga ajah tempat-tempat ‘gelap’ lainnya ditutup juga). Mumpung tanggal masih muda, kok kayaknya saya tergelitik untuk menuliskan something dengan rileks yah...
Tik tok, tik tok, mulai… kayaknya anomali banget kawan, kini banyak yang saling mengklaim paling pancasilais, mendukung kebhinekaan dan sejenisnya. Walau dalam prakteknya banyak yang bertolak-belakang dengan pernyataannya tersebut. Bulan juni lalu rame-rama juga pasang display picture di medsos dengan lambang negara dan bendera agar disebut Indonesia, walau pada faktanya banyak yang sekadar nampilin doang, tapi bisa jadi isi pikiran dan perasannya nggak mencerminkan itu semua. Lalu, apa pentingnya kita membahas soal ini? Ada deh.
Gini kawan, kita hidup susah dalam kapitalisme Barat yang korup serta berasal dari pikiran manusia yang lemah. Hari ini masih buanyak sengkarut masalah, saya sentil soal korupsi E KTP, kemiskinan, belum tuntasnya kasus BLBI, soal pajak, tarif listrik, Perppu Ormas, Reklamasi, nasib nelayan, Meikarta, Problem Freeport, Utang Luar negeri… Hellow apa kabar pemerintah zaman now yang mengklaim Pancasilais…
Gini… Gini deh kawan, kerusakan negeri kita di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya (termasuk hukum dan keamanan), tak lepas dari kapitalisme dan kebijakan neolib dengan instrumen politiknya. Jadi, selama negeri kita masih menerapkan ideologi ini, maka sampai lebih dari tujuh turunan pun tak akan pernah berubah menjadi baik. Padahal, kita butuh kemaslahatan di dunia juga yang terpenting adalah di akhirat.
Kalo bicara dalam spektrum yang lebih luas (cieee bahasa gue sok ilmiah) ngomongin soal kemerdekaan yang masih belum sepenuhnya ini diperluas cakupannya, belum lagi kalo ngomongin fakta bahwa sumber daya alam negeri kita ini masih belum dikelola dengan benar dan baik, malah ada banyak yang diserahkan pengelolaannya kepada pihak asing. Banyak kan perusahaan-perusahaan asing yang berkeliaran nyari duit di negeri ini? Silakan hitung sendiri. Kalo pun ada program kompensasi berupa kucuran dana untuk sosial dan pendidikan dari perusahan-perusahan asing tersebut, itu jauh lebih kecil dibanding keuntungan yang mereka dapat dari hasil mengeruk kekayaan negeri ini. Nah, sekarang kita renungkan dengan, kalo seandainya dikelola sendiri kan pasti manfaatnya lebih banyak. Buat siapa? Untuk seluruh rakyat negeri ini. Tapi nyatanya? Nggak begitu kan? Mikir!
Saya muslim, yups kita perhatikan seruan dari Allah Ta’ala (yang artinya): “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS al-A’raaf [7]: 96-98).
Gimana brow, milih berubah menjadi lebih baik? Bagi saya muslim, kemerdekaan sejati adalah bebasnya diri kita dari penghambaan kepada selain Allah menjadi menghambakan diri hanya kepada syariah yang ditetapkan Allah Ta’ala. So, campakkan perilaku tidak baik dari kehidupan kita. Itu pun jika kita mau berubah dari kondisi terpuruk selama ini menjadi pribadi dan negara yang bangkit dengan kemerdekaan sejati. Gitu aja repot. [IJM]

