Oleh : Salma Banin
(kontributor komunitas Pena Langit dan Revowriter)
Mediaoposisi.com- Pada akhirnya, semua yang bernyawa akan merasakan mati dan ia akan dimintai
pertanggung jawaban atas setiap detik kehidupannya hingga ruh meninggalkan jasadnya. Segala amalannya akan dihitung, seshalih apapun personal itu, jika masih terdapat noda kemaksiatan akan dicuci dalam neraka yang menyala-nyala. Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad)
Pemimpin selalu mendapat tempat khusus dalam perbincangan setiap zaman. Modelnya yang beragam menghiasi setiap lembar sejarah peradaban manusia. Menjelang bulan April tahun ini, Indonesia juga panas dengan isu ini. Setiap sudut kolom media sosial tidak pernah tidur mendebat pasangan mana yang lebih layak mengambil peran ini.
Gaduh, semenjak kubu oposisi mulai bersuara lantang untuk mengganti kepemimpinan petahana.
Disisi lain petahana tertatih menghalau opini yang sudah tak bisa terbendung lagi, sesekali menjawab dengan ‘prestasi’ meski tak lama kemudian ditentang sebab pengamat menilai itu adalah bagian dari pembodohan.
Sudah menjadi rutinitas negara untuk menjalankan agenda evaluasi dan rekapitulasi penghasilan ekonomi. Begitu juga dengan mengawali tahun ini, berita mengejutkan datang dari Menteri Keuangan terbaik versi PBB, Sri Mulyani, dengan bangga beliau mengumumkan pada media bahwa realisasi penerimaan negara tahun 2018 berhasil tembus 102,5% atau setara Rp 1.942,3 triliun dari target Rp 1.894,7 triliun.
Ini pencapaian terbaik sejak 2012. Ini membuktikan bahwa tagline kabinet kerja mampu dibuktikan melalui kerja nyata. Dibanding oposisi, yang senangnya mengkritik, banyak omong semata. Citra yang sempurna, ekonomi Indonesia bangkit menjelang akhir masa jabatan periode 2014-2019.
Namun kepahitan hidup tak bisa dihindari, analis ekonomi independen Gede Sandra turut berkomentar hanya selang 3 hari setelahnya. Ia menjelaskan bahwa, tercapainya target 100% penerimaan negara dan berkurangnya defisit ternyata bukan berasal dari perbaikan kinerja.
Indikator kunci (key indicator) dari kinerja Menteri Keuangan sebenarnya adalah rasio penerimaan pajak. Jika Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi selama 2018 berada di level 5,15%, maka produk domestik bruto (PDB) menurutnya ada di angka Rp 24.288,6 triliun.
Artinya, dengan penerimaan pajak tahun 2018 hanya sebesar Rp 1.315,9 triliun, maka rasio penerimaan pajak terhadap PDB atau tax ratio definisi sempit versi pemerintahan saat ini adalah sebesar 9,2%.
Menurut Gede, berdasarkan data Bank Dunia bahwa besaran tax ratio tahun 2018 sebesar 9,2% ini
bukan saja yang terburuk selama 4 tahun Pemerintahan Jokowi, melainkan juga yang terendah dalam 45 tahun terakhir perjalanan sejarah Indonesia. Oleh karena itu, dia menilai bahwa keberhasilan pemerintah dalam mengamankan penerimaan negara tahun 2018 adalah prestasi yang semu bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Bila terjadi peningkatan rasio penerimaan pajak, maka kita angkat topi karena itu adalah prestasi yang riil. Sayang, ternyata fakta berkata lain, tutupnya dalam kanal berita online finance.detik.com, 03/01/19.
Ini bukan pertama kalinya pegawai istana dibawah kepemimpinan Jokowi menghadirkan data yang ditutupi sebagian, atau dengan kata lain, menyesatkan. Mungkin ini adalah salah satu yang dimaksud oleh Ketua Badan Siber dan Sandi Nasional dengan “hoax tak apa asal membangun” saat pelantikannya. Model pemerintahan seperti ini tidak akan sebagai jejak digital yang sulit terbantahkan, sebab jutaan rakyat telah menjadi saksinya.
Persaksian ini akan berlanjut, ke pengadilan yang lebih tinggi dan pasti membawa keadilan, yakni Pengadilan Akhirat. Setiap antek yang dimanfaatkan oleh ideologi kapitalisme akan dicecar berjuta tuntutan dari ratusan juta rakyat yang berada dalam tanggungjawabnya selama 5 tahun mereka menjabat. Tak ada yang mampu berdusta di persidangan itu.
Bahkan seluruh anggota tubuhnya akan patuh mengatakan yang selama ini tersembunyi sesuai arahan Penciptanya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan
dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang
akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim
no. 1829).
Nasihat ini cukup untuk menggetarkan hati seorang hamba yang masih melaksanakan shalat, namun tidak bagi yang masih meragu pada akhirat, atau minimal berteman karib dengan berpikiran semacam itu.
Sungguh sayang, manusia yang mereka segani selagi di dunia itu kelak di akhirat akan menghadapi kondisi yang sama, ketakutan, kecemasan atas pengingkaran terhadap kritik, saran dan masukan yang senantiasa datang dengan penuh keikhlasan dari saudaranya yang kebetulan sedang berada dibawahnya dalam perkara dunia.
Cukup sudah kebohongan ini, jangan lagi diteruskan, sebab Rabb Semesta Alam sudah menampakkan ketidak-ridhoanNya melalui cobaan yang menimpa kita semua. Jangan lagi berpihak kepada ketidak-adilan. Cukuplah Islam menjadi solusi atas apa yang sama-sama kita keluhkan hari ini. Wallahu’alam. [MO/ra]
