Republik Afrika Tengah Kembali Memanas, 7 Warga Muslim Terbunuh
Opini Bangsa - Sedikitnya tujuh warga Muslim terbunuh dan sejumlah lainnya terluka akibat bentrokan dengan warga Kristen di ibu kota Republik Afrika Tengah. Serangan terhadap minoritas Muslim di Negara tersebut meningkat beberapa bulan terakhir.
Seperti dilansir dari Al-Jazeera, Senin (13/11), kondisi ibukota memanas sejak Sabtu malam lalu ketika sebuah granat meledak di sebuah acara konser musik di kawasan Lingkaran Ketiga. Beberapa saat kemudian, warga Kristen menyerang kampung Muslim sehingga terjadi bentrokan. Bentrok itu itu berlanjut hingga Ahad pagi.
Salah seorang anggota Silika (kelompok bersenjata Muslim) mengatakan kepada Al-Jazeera, sebagian jasad warga Muslim sudah diambil oleh keluarga dari rumah sakit. Sementara jasad lainnya dievakuasi sendiri dari jalan dan kemudian diletakkan di Masjid. Tercatat sedikitnya 10 warga Muslim hilang selama bentrokan itu dan belum diketahui nasibnya.
Pada bagiannya, juru bicara misi perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah, Irvie Verhussel, mengatakan bahwa bentrokan itu terjadi setelah dua pengendara sepeda motor tak dikenal melempar granat ke sebuah café yang tengah menggelar konser.
Ia melanjutkan, sebagian pemain music terluka dan segera dievakuasi ke Rumah Sakit Bangui. Sumber rumah sakit mengatakan, pihaknya menerima sebanyak 21 korban luka-luka—sebagian luka serius— akibat ledakan itu.
Serangan milisi Kristen Anti-Balaka kepada minoritas Muslim meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Banyak organisasi kemanusiaan milisi tersebut melakukan kejahatan genosida terhadap warga Muslim.
Konflik di Afrika Tengah meletus pada 2013 yang melibatkan mayoritas warga Kristen dan minoritas warga Muslim. Beberapa bulan kemudian, Prancis mengirim pasukan ke Negara tersebut yang disusul PBB. Mereka beralasan, akan mengembalikan stabilitas dan keamanan di Negara itu. Namun, kekerasan terhadap warga Muslim masih terus terjadi bahkan gelombang pengungsian masih terus mengalir. [opinibangsa.info / kn]

