Oleh: Siti Aisyah
Memang, beberapa bulan terakhir ini, berbagai kanal media asing melaporkan telah terjadi penahanan massal sekitar satu juta orang dari komunitas Muslim Uighur oleh pemerintah Cina di kamp yang berukuran besar yang mereka sebut pusat reedukasi.
Begitu juga, seperti yang dituturkan oleh Aktivis Muslimah Uighur, Gulnas Uighur. Ia mengatakan, ada lima hal mengerikan yang terjadi di kamp-kamp rahasia Cina. Pertama, kaum Muslim dicuci otaknya untuk melupakan Islam. Kedua, kaum Muslim Uighur ditekan dan dipaksa untuk makan daging babi dan minum alkohol. Ketiga, berbagai bentuk penyiksaan yang tidak manusiawi oleh pihak berwenang agar orang-orang Uighur mematuhi perintah mereka. Para penyiksa Partai Komunis Cina itu tidak membolehkan mereka untuk tidur, menggantung mereka selama berjam-jam dan memukuli mereka.
Keempat, setiap harinya, para Muslimah Uighur diperkosa oleh para pejabat PKC dan dibunuh jika mereka menolak. Para wanita itu diambil dari sel-sel mereka dan diperkosa sepanjang malam. Jika mereka terus melawan, maka mereka disuntik dengan sesuatu zat untuk dibunuh. Kelima, alasan aneh di balik pengiriman mereka ke kamp. Saat ini siapapun dapat dimasukkan ke kamp. Mereka ditahan karena alasan-alasan seperti menghubungi teman dan kerabat di luar negeri, bepergian ke negara asing, menumbuhkan jenggot, mendengarkan khutbah agama dan memotong rambut. Mayat-mayat dari orang-orang yang meninggal di kamp konsentrasi tidak pernah diserahkan ke anggota keluarga mereka.
Namun, Cina menyangkal adanya kamp penahanan khusus tetapi mengatakan orang-orang di Xinjiang itu mendapatkan `pelatihan kejuruan. Kebijakan ekstremnya di Xinjiang sebagai sebuah perjuangan melawan radikalisasi Islam dan ekstremisme serta “separatisme” Uighur.
Kebijakan ini menunjukan mereka dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Cina. Hal tersebut menunjukkan kekhawatiran Cina tentang kebangkitan Islam.
Jika kita lihat ada dua faktor yang mendasari pemerintah komunis Cina membantai dan memperlakukan kaum Muslim Uighur dengan sangat kejam yakni, faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal
Yang melatarbelakangi kekejaman komunis Cina terhadap komunitas minoritas Suku Uighur. Pertama, kebangkitan Islam di Xinjiang khususnya di Uighur. Etnis Uighur di Xinjiang adalah beragama Islam. Ini dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi dan keamanan nasional.
Jika dilihat dari sisi ideologi, jelas sekali pemerintah Komunis Cina sangat benci kepada Islam, karena dalam ajaran komunis tidak mengenal Tuhan, menganggap agama sebagai candu dan bersikap anti agama dengan keras dan beranggapan bahwa agama merupakan gejala kolot yang lambat laun akan ditinggalkan.
Kedua, Xinjiang memiliki cadangan migas yang sangat besar. Xinjiang merupakan sebuah kawasan besar, luasnya setara dengan tiga Pulau Sumatera atau sama dengan Pakistan dan Afghanistan yang digabung menjadi satu. Xinjiang merupakan wilayah penting yang diperebutkan. Dulu, Xinjiang merupakan urat nadi perdagangan dunia karena berada di Jalur Sutra. Kini, Xinjiang merupakan wilayah yang kaya sumber daya alam. Ungkapan ‘di mana ada azan, di situ ada minyak’ juga terbukti di sini.
Cadangan minyak dan gas terbesar Republik Rakyat Cina (RRC) ada di sini, khususnya, di Xinjiang bagian selatan (Tarim Basin), tempat Muslim Uighur sejak dulu tinggal menetap di bawah sistem pemerintahan tradisional yang disebut Khanate atau Khaganate.
Faktor Eksternal
Ikatan nasionalisme menjadikan kaum Muslimin terpecah-pecah menjadi serpihan negara-negara bangsa. Kaum Muslimin bagaikan buih di lautan, banyak jumlahnya namun sangat lemah di hadapan kafir penjajah.
Ketiadaan khilafah telah membuat nyawa umat Muslim begitu murahnya di hadapan negara-negara kafir penjajah. Padahal di mata Allah, hancurnya bumi beserta isinya ini lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang Muslim tanpa alasan yang hak. Begitu juga yang dialami oleh kaum Muslim di Uighur, semua ini terjadi karena tidak ada khilafah yang melindunginya. Kesucian dan kemuliaan umat ini pun tidak ada yang melindungi. Kafir penjajah dengan sombong dan arogan mempertontonkan kemaksiatan mereka.
Apa yang Dilakukan Dunia?
Saat ini berbagai kecaman internasional, semakin meningkat tentang perlakuan Cina terhadap sekitar 1 juta Muslim Uighur mengalami penyiksaan dan tidak diketahui nasib mereka ketika dimasukkan ke dalam kamp pendidikan ulang. Termasuk Uni Eropa dan PBB mengecam kamp-kamp ini.
Namun, penguasa negeri-negeri Muslim memilih diam dan tetap melanjutkan ‘persahabatan’ mereka dengan Cina, begitu pun Indonesia. Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka diam? Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang beriman itu seperti satu tubuh; jika matanya, seluruh tubuhnya terasa sakit, dan jika kepalanya sakit, seluruh tubuhnya terasa sakit.”( HR. Muslim)
Alasan pemerintah Indonesia tidak mau mencampuri kejahatan kemanusiaan Uighur karena investasi dan utang kepada Cina. (Warta Kota, Selasa 18/12/2018)
Ini semua disebabkan ikatan nasionalisme sebagai ikatan kufur yang membuat para penguasa negeri-negeri kaum Muslimim tak menganggap serius pembantaian dan penyiksaan Muslim Uighur. Kafir penjajah sedari awal sudah berhasil mencuci otak kaum Muslimin dengan merubah ikatan tauhid dengan ikatan nasionalisme, sehingga khilafah Islam runtuh dan kaum Muslimin terpecah lebih dari 57 negara bangsa.
Khilafah sebagai Pelindung
Jika kita lihat, berbagai penderitaan yang dialami kaum Muslim di berbagai belahan dunia datang silih berganti tanpa henti dan tak kunjung menemukan solusi. Mengapa terjadi? Jelas sekali, umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, karena ketiadaan pemimpin/khilafah yang akan melindunginya. Rasulullah SAW bersabda,” Sesunggunya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim).
Ketika umat Muslim mempunyai khilafah maka kesucian dan keselamatan Islam dan kaum Muslimin akan terlindungi. Karena Khilafah adalah perisai juga pelindung sejati bagi umat Islam. Mengapa khalifah disebut sebagai junnah atau perisai? Karena seorang khalifah akan memberikan rasa aman atas urusan dunia dan agamanya akibat dari serangan musuh-musuh Islam.
Kita bisa berkaca pada kisah heroik yang dicatat dengan tinta emas sejarah Islam, seorang khalifah yang bisa melindungi umatnya. Dialah Khalifah al-Mu’tasim pada masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah (833-842 Masehi).
Ketika itu, al-Mu’tasim mendengar seorang Muslimah dilecehkan dan diganggu oleh seorang lelaki Romawi dengan menyentuh ujung jilbabnya hingga dia secara spontan berteriak : “Wa Mu’tashamah….!!!” Yang artinya “Di mana kau Mu’tasim…Tolonglah Aku.”
Khalifah pun langsung memerintahkan kepada panglima perangnya untuk bersiap menuju Ammuriah, tempat Muslimah tersebut minta tolong. Puluhan ribu tentara pun mulai dipersiapkan mulai dari gerbang ibu kota di Baghdad hingga ujungnya mencapai Kota Ammuriah. Pembelaan kepada Muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.
Hanya seorang Muslimah yang dilecehkan kafir Romawi dan berteriak ‘Wahai Mu’tasim” saja maka sang khalifah segera melancarkan serangan penaklukan ke Ammuriah hingga sang Muslimah akhirnya bisa dibebaskan.
Dari kisah di atas, kita bisa melihat dengan kekhilafahan Islamlah, kesucian dan kemuliaan umat dapat terlindungi. Begitu pun kondisi kaum Muslim Uighur bisa terbebas dari penindasan, penyiksaan dan kekejaman yang dilakukan oleh kafir penjajah komunis Cina. Karena itu, bebaskan Uighur dengan khilafah. Aamiin.[MO/sr]

