Mungkin, mereka bukan orang yg menghafal ratusan ribu hadits, bukan pula penghafal matan puluhan kitab turats, bukan pula penulis berjilid-jilid kitab fiqih monumental yg membahas berbagai persoalan pelik lengkap dengan paparan luas tentang berbagai pendapat yg ada.
Namun, keistimewaan "para bapak" pergerakan Islam-ideologis modern, seperti Sayyid Quthb, Al Maududi, An Nabhani, dll (rahimahumullahu Ta'ala rahmatan wasi'ah) adalah kepekaan mereka terhadap sifat khas problematika umat di zaman mereka secara utuh. Melihat keadaan dunia secara holistik membuat mereka mampu menangkap dan menghubungkan berbagai fakta dan gejala, jadilah mereka sadar akan hadirnya babak unik dalam perjalanan sejarah umat, babak yang tidak lazim, zaman kelam yg bukan kelanjutan dari zaman Islam sebelumnya di mana Al Bukhari, Ath Thabari, Sibawaih, An Nuhas, Al Ghazali, An Nawawi, Ibnu Khaldun, As Suyuthi dll hidup di dalamnya. Bukan, mereka merasakan: ini zaman yg berbeda.
Mereka bukan hanya merasakan kemunduran dan kekalahan Islam, melainkan juga merasakan suasana atmosfer lain, merasakan cara pandang dan cara hidup lain yg mengisi ruang-ruang penting dlm masyarakat mereka. Mereka memahami pengaruh westernisasi dalam kehidupan praktis, seperti dalam politik, ekonomi, sosial budaya dan lain². Mereka melihat dengan jelas keberadaan pemikiran² asing yg merayap di tubuh umat, yg memunculkan gejala-gejala penyakit pemikiran yg merusak seperti liberalisme, sosialisme-marxisme, fanatisme kebangsaan, dll. Mereka, dengan tingkatan yg berbeda² juga memiliki kesadaran politik dengan sudut pandang Islam, kesadaran politik yg membuat mereka mampu mengambil sikap dan mendidik umat dalam berbagai peristiwa politik penting yg terjadi. Mereka pun, dengan berbagai variasi, menginisiasi, mengorganisir dan menjalankan misi untuk membelokkan jalannya sejarah kembali ke atas rel yg semestinya, bersambung dengan gerbong zaman yg terangkai sebelumnya.
Kepekaan itu dimiliki karena mereka mendudukan Islam sebagai landasan pemikiran yg produktif, menggunakan berbagai maklumat tentang Islam untuk mensikapi fakta-fakta yg muncul. Mereka tidak membatasi Islam semata-mata sebagai teks-teks pelajaran yg seleai dihafal lalu diulang-ulang, atau sekumpulan bahan perdebatan untuk menghadapi firqah-firqah aneh yg lahir jauh di masa lalu. Lebih dari itu, mereka menjadikan pemikiran Islam sebagai kaca mata untuk mengindera, sebagai panduan untuk bertindak menghadapi berbagai kenyataan yg ada.
NB:
Gerakan-gerakan mereka secara umum sering dianggap sebagai penampakan gejala "kebangkitan Islam" (as-shahwah al Islamiyyah), lebih khusus disebut oleh pihak luar sebagai gerakan "Islam politik" yang berkeyakinan bahwa Islam adalah "ad-diin wad daulah", secara peyoratif, stigmatis dan mengelirukan, mereka disebut oleh lawan-lawannya sebagai "gerakan fundamentalis" atau bahkan "Islam radikal".
Gerakan-gerakan mereka secara umum sering dianggap sebagai penampakan gejala "kebangkitan Islam" (as-shahwah al Islamiyyah), lebih khusus disebut oleh pihak luar sebagai gerakan "Islam politik" yang berkeyakinan bahwa Islam adalah "ad-diin wad daulah", secara peyoratif, stigmatis dan mengelirukan, mereka disebut oleh lawan-lawannya sebagai "gerakan fundamentalis" atau bahkan "Islam radikal".
Sumber : fb Titok Priastomo
judul Asli : Keistimewaan para "bapak" pergerakan politik Islam ideologis modern
judul Asli : Keistimewaan para "bapak" pergerakan politik Islam ideologis modern

