Oleh: Firdaus Bayu - Pusat Kajian Multidimensi
Kamis, (01/03/18) kembali digelar sidang sengketa pencabutan BHP-HTI di PTUN. Pada kesempatan itu, Ansyaad Mbai, mantan kepala BNPT hadir sebagai saksi ahli dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Namun tak lama setelah persidangan berakhir, ada beberapa catatan tentang dirinya. Ada fitnah?
Salah satu yang paling menonjol ialah fitnahnya soal HTI dan khilafah yang dia kaitkan dengan aksi-aksi teror. Dalam keterangannya, dia menyebutkan, “Jangankan HTI, semua yang terlibat teror yang ditangkap tidak pernah mengaku. Makanya polisi tidak pernah mengejar pengakuan, namun fakta-fakta… Organisasinya memang berjalan normatif, berdakwah, non kekerasan, tapi di bawah permukaan mereka itu membentuk para militer, dan hal ini bisa diketahui pimpinan formal organisasi mereka, bisa juga tidak,” ujar dia (antaranews.com, 01/03/18).
Jika organisasi yang Mbai maksud dalam pernyataan di atas adalah HTI, maka jelas itu adalah fitnah. Kegiatan HTI selama ini selalu terpantau oleh negara, sebab HTI termasuk ormas yang taat hukum, sementara terorisme adalah kegiatan melanggar hukum. Jadi adalah sebuah penyesatan jika HTI disebut terlibat dalam aksi teror.
Mbai menjelaskan bahwa aktifitas terorisme yang selama ini terjadi tidak pernah menuai pengakuan pelakunya. Dia awali dengan kalimat, “Jangankan HTI…”. Itu artinya, secara tidak langsung, dirinya menyatakan bahwa HTI adalah salah satu pelaku teror yang tidak pernah mengakui tindakannya. Ini adalah fitnah yang nyata. Dalam praktiknya, HTI senantiasa mengeluarkan sikap kecaman terhadap setiap tindakan terorisme, dan tidak pernah ada satu pun kasus terorisme selama ini yang menyeret HTI. HTI juga tidak mengajarkan paham terorisme dalam seruan-seruan mereka. Soal apakah HTI mengajarkan terorisme atau tidak, sebetulnya hal itu bisa saja dibuktikan dengan mendalami kitab-kitab atau tausiyah tokoh-tokoh mereka yang ada selama ini, namun sayang, hal itu tidak ditempuh Ansyaad Mbai, dan hanya berujar berdasarkan hawa nafsu.
Umat Islam tidak bisa dibohongi terus menerus. Mereka adalah generasi berakal yang memiliki kesetiaan terhadap agama dan ajarannya. Maka tak heran jika banyak pembelaan dari para ulama, pengamat dan pakar hukum muslim untuk HTI dan ajaran Islam, misalnya khilafah ketika disudutkan, sebab pada dasarnya semua itu adalah konsekuensi iman yang logis. Jadi, Ansyaad Mbai, anda harusnya meminta maaf kepada HTI dan umat Islam apabila tidak mampu membuktikan narasi anda. Jangan sampai stempel "tukang fitnah" tercetak di dahi anda. [IJM]

